Friday, September 19, 2014

Etika berbahasa di tempat kerja

Saya tuh orangnya simple. Tidak begitu suka dengan suasana yang kaku dan formal. Santai lebih asyik. Namun ada satu kejadian yang membuat saya tergelitik.

Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, saya beraktifitas seperti biasanya. Ditengah-tengah kesibukan kerja, agar suasana kerja tidak monoton, terkadang saya dan rekan-rekan kerja yang satu ruangan bersenda gurau satu sama lain. Jadi pernah satu waktu, ketika itu saya dideadline oleh atasan untuk menelusuri masalah yang terjadi pada salah satu anggota tim kami. Jadi agar saya mendapatkan data yang akurat tentulah saya harus menghubungi pihak-pihak terkait agar cerita dan data yang saya dapat berimbang. Jadi siang itu mereka-mereka yang terkait ini saya hubungi satu-persatu. Dari 3 pihak yang saya hubungi, 2 diantaranya telah memberikan jawaban yang menurut saya "memuaskan", karena mereka memberikan kronologis kejadian itu dengan jelas dan rinci. Yang membuat saya sedikit sensi adalah orang yang ketiga ini. Entah karena masih terbawa suasana gurauan tadi pagi, atau karena faktor lain, beliau ini memberikan jawaban yang membuat saya sangat gerah. Padahal saya sudah berkali-kali mengingatkan dia bahwa saya serius, jadi tolong jangan bercanda lagi. Saya katain begitu eh balik dia yang jutek kepada saya. Karena kesal tidak mendapat tanggapan saya lalu bilang, "ya sudahlah, kalo kamu tidak bisa memberikan informasi yang saya minta, untuk selanjutnya urusan ini saya serahkan ke HRD saja", lalu saya tutup teleponnya. Namun beberapa saat sebelum sambungan telepon saya tutup, dari seberang saya mendengar dia mengucapkan kata-kata yang sangat tidak pantas dan kotor ditelinga saya.

Compare hotel prices and find the best deal - hotelscombined.com

Wahhh.. saya betul-betul meradang kali ini dibuatnya. Langsung saja saya kirimi dia SMS "tolong ucapan anda dijaga ya, karena kalau bukan karena urusan perkerjaan saya tidak akan menghubungi anda. Dan satu lagi, saya masih atasan anda, yang berhak melakukan evaluasi atas kinerja anda !". Dia tidak membalas pesan saya lagi. Dan saya cukup bersyukur atas itu. Karena bagaimanapun saya juga tidak menginginkan konflik terbuka dengan rekan-rekan kerja saya.

Dari kejadian tersebut saya mendapat pelajaran yang cukup berarti. Bahwa ternyata perlu juga menjaga sedikit jarak antara atasan dan bawahan, agar mereka tetap respect dan menghargai atasannya. Sebagai atasan sebenarnya saya bukan tipikal orang yang gila hormat dan ingin ditakuti bawahan. Tapi sebaliknya, saya ingin menciptakan keakraban dan kenyamanan dalam berkerja sama. Namun ternyata, tidak semua orang bisa menerima perlakuan ramah kita sebagai bentuk penerimaan terhadap dia. Sebagian mereka menganggap keramahan kita sebagai bentuk sinyal bahwa kita 'murah'. Itu yang saya tidak bisa terima.

Jadi agar kenyamanan dalam berkerja bisa tercipta, masing-masing individu semestinya bisa mengontrol diri dan mengetahui manajemen waktu yang tepat. Harus bisa membedakan antara perkerjaan dan pertemanan. Mungkin diluar kantor seseorang itu adalah teman. Namun untuk urusan perkerjaan dikantor antara atasan dan bawahan itu tetap tidak sama. Harus tetap saling menjaga kesopanan dan etika dalam berbahasa satu sama lainnya.
ViralGen Referral Shopping

0 comments:

Post a Comment


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal