Monday, August 18, 2014

Beberapa hari ini hati saya tergelitik oleh beberapa postingan teman2 di FB, yang diantaranya menuliskan kalimat insya Allah (versi Indonesia) dengan In Sha Allah (versi Bhs. Inggris).

Sebagai orang awam yang pengetahuan agamanya masih dangkal, sedari kecil saya telah diajarkan akan makna kalimat Insya Allah itu adalah "Jika Allah Berkehendak" terdiri dari huruf Alif, Nun, Syin, Hamzah dan Allah

Namun belakangan ini saya sedikit dibingungkan dengan munculnya penulisan kalimat tersebut menjadi Insha Allah, yang berarti ada perubahan huruf disini dari Syin (ﺵ ) menjadi Shad (ص)
Tapi saya bersyukur, karena hari ini saya mendapat pencerahan dari dakwatuna sebagaimana kutipan berikut ini .

Penulisan ‘insya Allah’ menjadi ‘in sha Allah’ justru menjadi keliru, karena dalam bahasa Indonesia, huruf ‘syin’ (ﺵ ) ditransliterasi ke dalam fonem ‘sy’ sedangkan fonem ‘sh’ adalah transliterasi untuk huruf ‘shad’ (ص). Sehingga jika kita menulis “in sha Allah” maka padanannya dalam bahasa Arab adalah ( إن صاء الله ) atau ( إن ص الله ) yang justru tidak ada maknanya.

Hal ini berbeda dengan di Malaysia yang mengadopsi transliterasi dari bahasa Inggris di mana ‘syin’ (ﺵ ) di tulis dengan fonem ‘sh’. Orang-orang di London sana, yang suka makan kentang itu, mereka mentransliterasi semua huruf ‘syin’ (ﺵ ) menjadi ‘Sh’, itu sebabnya kita melihat kata-kata yang tidak lazim kita baca di Indonesia seperti: Shukoor, Shuuraa, Shukran, dll., yang kita pahami dengan syukur, syura, syukran, dst. Apakah orang Indonesia yang menulis ‘in shaa Allah” akan secara konsisten menuliskan lafazh-lafazh yang tak familiar itu? Bagaimana dengan Shahadat, shamil? Maashaa Allah.

Sekalipun tidak ada standar baku mengenai transliterasi huruf Arab ke huruf latin berbahasa Indonesia (setidaknya sejauh ini saya belum menemukan bentuk bakunya), bisa dipastikan hampir tidak pernah ada penggunaan fonem ‘sh’ untuk mewakili ‘syin’ (ﺵ ) dari bahasa Arab.

Karena tidak ada bentuk baku inilah, dalam penulisan karya-karya ilmiah, baik skripsi, tesis, disertasi atau pun jurnal-jurnal ilmiah keislaman, mudah kita dapati pedoman transliterasi di halaman muka. Tapi hampir pasti tidak ada satu pun jurnal ilmiah berbahasa Indonesia yang mengalihtuliskan huruf syin (ﺵ) dengan fonem ‘sh’, kecuali Jurnal Islamia yang memang awal diisi oleh penulis-penulis binaan Syed M.Naquib al-Attas asal Malaysia. Penulisan huruf syin (ﺵ ) menjadi ‘sh’ dalam frase “in sha Allah” justru menimbulkan confused seolah-olah tulisan arabnya adalah إن صاء الله yang tidak ada maknanya itu. Belakangan UIN Jakarta memang menggunakan fonem ‘sh’ untuk huruf (ﺵ ) tetapi itu pun dengan alasan tak sama dengan broadcast yang banyak beredar itu.

Menurut analisis saya (pakai gaya Sentilun), tidak ada masalah untuk menulis “insya Allah/insya Allaah/in sya Allah” maupun “in syaa Allaah” karena semuanya tetap merujuk kepada kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ dalam bahasa Arab. Ini hanya berada pada zona transliterasi atau penyesuaian fonem saja. Akan menjadi keliru kemudian jika kita menuliskannya dalam bahasa Arab dengan mengubah tulisannya, atau bicara dalam bahasa Arab dengan mengubah tone-nya.

Bagi mereka yang tinggal di Indonesia, frase “insya Allah” sudah lazim dan sama sekali tidak dimaksudkan sekaligus tidak pula diartikan dengan “menciptakan Allah”, karena tulisan tersebut hanya transliterasi yang memiliki keterbatasan dengan fonem bahasa Asal. Tidak mengubah huruf asli dan tidak pula mengubah bunyinya, hanya mengalihtuliskan kata dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia di mana fonemnya tidak seluruhnya sama. Persis sebagaimana penulisan Aisyah yang tidak perlu ditulis menjadi “‘Aa-isyah”, atau “ibnu Khattab” menjadi “ibn Khaththaab”, atau Abdurrahman Wahid menjadi ‘Abd al-Raḫmȃn Wȃhid. Itu hanya pilihan transliterasi.

Transliterasi sendiri di banyak jurnal seringkali menggunakan bantuan simbol untuk membantu menjelaskan setiap hurufnya, al-ḫamd li Allȃhi Rabb al- ‘alamȋn.. Dan yang di Malaysia atau di negara-negara barat tetap bisa menuliskannya dengan “in sha Allah”.

Sumber:

http://www.dakwatuna.com/2014/08/11/55635/hiperkorek-penulisan-in-sha-allah/#ixzz3AjZwZDYe

1 komentar:

[…] dahsyat memporak-porandakan kehidupanku, hingga aku nyaris melakukan tindakan yang sangat dimurkai Allah. Ya teman, kala itu aku nyaris bunuh diri karena tak kuasa menahan beban permasalahan yang […]

REPLY


Terimakasih telah berkunjung ^.^
Tinggalkan komentar ya, biar kita saling kenal

Meirida.my.id . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | for Meirida.my.id