Saturday, November 29, 2014

Pengaruh PMA terhadap keberhasilan

Beberapa tahun terakhir ini saya pribadi kerap mendengar dari berbagai sumber, dan juga sering diarahkan oleh orang-orang terdekat bahwasanya Positive Thinking itu sangat diperlukan dalam hidup. Karena positive thinking ini mampu memberikan sugesti positif, sehingga mendorong seseorang kearah yang lebih baik. Dan dengan taatnya, saya menerapkan hal ini dalam keseharian saya. Untuk setiap permasalahan yang datang dalam hidup saya, sebisa mungkin, semaksimal mungkin saya mendahulukan positif thingking dalam menyikapinya. Dan sejauh ini, saya cukup nyaman dengan kehidupan saya.

Namun, pagi ini saya mendapat pencerahan lagi dari orang-orang terdekat saya. Specially my hubby :) Menurut dia, positive thinking itu perlu, namun lebih diperlukan lagi PMA. Kening saya berkerut mendengar perkataan dia. PMA ? apa itu PMA ? Penanaman Modal Asing ? ribuan tanda tanya berputar-putar dibenak saya mencoba menganalisa apa yang suami saya katakan. Ternyata PMA yang dia maksud bukanlah PMA yang seperti saya pikirkan. PMA yang dia maksud adalah Positive Mental Attitude atau dengan kata lain Sikap Mental Positif. Saya mencoba menggali lebih dalam tentang PMA ini dari suami saya, namun karena keterbatasan waktu dalam perjalanan kekantor, akhirnya saya harus puas dengan janji dia untuk membahas lagi sepulang berkerja nanti.

Karena rasa penasaran yang besar tentang PMA tadi, sesampai dikantor saya langsung browsing di internet tentang PMA ini. Ternyata suami saya benar. Dari informasi yang saya dapat,  menurut profesor Edwood Chapman, sikap mental adalah cara mengkomunikasikan atau mengekspresikan suasana hati atau watak kepada orang lain. Jika ekspresi kita kepada orang lain positif, maka kita disebut sebagai orang yang bersikap mental positif. dan begitu juga sebaliknya.

Yang perlu diketahui adalah adanya perbedaan antara Positive Mental Attitude (Sikap Mental Positif) dengan Positive Thinking (Berpikir Positif). Positive Mental Attitude (PMA) adalah sikap mental positif dimana sifat ini berasal dari pikiran bawah sadar seseorang yang benar-benar percaya diri dan percaya bahwa dirinya bisa. Sedangkan Positive Thinking datang dari pikiran sadar di mana kita berpikir bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja, meskipun kita belum tentu mempercayainya.
Sikap mental positif mendorong kita untuk mencapai tujuan dengan gigih. ketika kita jatuh terperosok, kita masih dapat mengatakan "ah ini cuma tersandung batu kecil, tujuan kita belum tercapai". Kita pun mampu bangkit kembali. Shoichiro Honda tetap bersikap mental positif ketika piston berbentuk cincin buatanya ditolak oleh toyota dan ditertawakan para teknisi. Setelah bertahan dua tahun dan memperbaiki kelemahan tersebut, akhirnya toyota mau menerimanya. Bahkan ketika pabriknya dibom dua kali dan dihancurkan oleh gempa bumi, ia tetap bersikap mental positif dalam meraih cita-citanya dan tetap berusaha mempunyai pabrik kembali.


        Sikap mental positif mendorong kita untuk menjadi lebih kreatif. Setiap saat terjadi hal-hal yang tak kita inginkan, dengan sikap mental positif , kita masih dapat menanggapinya dengan mencari suatu hikmah di baliknya secara kreatif.

Seorang sales yang memiliki PMA akan memulai harinya dengan percaya bahwa ia pasti akan bisa menjual hari ini, ia pergi dengan percaya diri, tanpa gentar meskipun ia ditolak beberapa kali juga, karena ia tahu selama ia berjualan, pada akhirnya pasti akan berhasil menutup penjualan juga. Sedangkan sales yang hanya memiliki Positive Thinking tanpa memiliki PMA akan berjalan keluar kantor dengan tidak percaya diri dan sedikit lemas karena takut gagal. Lalu saat akan bertemu dengan calon pelanggan ia berpikir bahwa “oke, saya yakin hari ini saya bisa” namun ia tak benar-benar mempercayai kata-katanya dan alhasil ia tak menunjukkan sikap positif sepenuhnya dan mudah terintimidasi.

Jadi kesimpulan saya adalah Positive Thinking itu perlu, namun memang lebih perlu lagi Positive Mental Attitude, karena Positive Thinking tanpa dilandasi PMA ibarat kapal yang berlayar tanpa kompas. Tujuan ada, hembusan angin juga ada, nahkoda juga ada, namun tidak ada kompas yang akan memandu untuk sampai ketujuan tersebut.

Mulai hari ini, saya mengajak dan menghimbau rekan-rekan semua. Mari kita sama-sama belajar membentuk dan menerapkan Sikap Mental Positif dalam hidup kita. Agar hidup kita berjalan dengan baik dan semua impian yang kita cita-citakan berhasil. Aamiin.

Semoga bermanfaat.

~Salam Sukses~



Thursday, November 27, 2014

Bangkit dari Kegagalan

Banyak kata-kata motivasi yang kita dengar sehubungan dengan yang namanya Kegagalan. Mengapa bisa begitu ? Apakah ini pertanda bahwa kegagalan itu adalah sebuah hal yang menakutkan ? sehingga banyak orang yang memikirkan berbagai macam cara agar kegagalan itu tidak mampir dalam kehidupannya.

Menurut ilmu psikologi, dibutuhkan mental dan jiwa yang kuat dalam menghadapi kegagalan. Kita tahu benar, tidak sedikit orang yang mengambil jalan pintas dengan bunuh diri karena tidak kuat saat berhadapan dengan kegagalan. Hal ini terjadi karena kegagalan itu sendiri memberi dampak sosial yang sangat besar dalam kehidupan seseorang, diantaranya ada rasa malu, sakit hati, kecewa, benci dan lain sebagainya. Ketika semua rasa ini bersatu dalam satu waktu dengan kadar yang diluar kendali, namun tidak ditopang oleh mental dan jiwa yang kuat, maka saat itu juga orang tersebut akan memilih jalan pintas untuk lari dari kegagalannya. Oleh karena itulah, maka banyak kata-kata motivasi bermunculan untuk memberi semangat dan menumbuhkan kepercayaan diri seseorang agar bisa bangkit dari kegagalannya.

Saya sendiri, adalah salah satu dari sekian banyak manusia dimuka bumi ini yang sering mengalami kegagalan. Ketika kegagalan itu terjadi, bermacam ragam reaksi sosial yang saya terima seperti sindiran, cacian, makian bahkan hinaan pun saya terima. Tidak jarang air mata saya menetes dibuatnya, dan itu normal saja, karena itu adalah pertanda bagus karena saya masih normal, masih waras, masih bisa merasakan sakit karena hinaan, malu karena kesalahan, kecewa karena banyak hal dan benci kepada mereka yang tidak berempati.

Namun saya bersyukur kepada yang Maha Kuasa, karena saya diberikan rasa 'harga diri' yang sedikit diatas rata-rata. Saya merasakan harga diri saya sangat terkoyak menerima perlakuan negatif ketika saya gagal. Jadi dengan sendirinya semangat untuk bangkit itu kembali berkobar dalam diri saya.

mario

Agar bisa segera move on dan bangkit dari kegagalan, saya membenahi beberapa hal ini dalam hidup saya :

  • Sudut pandang

Ketika mengalami kegagalan, saya kurang instrospeksi diri, malah menyalahkan pihak-pihak lain atas kegagalan saya. Nah.. itu saya rubah. Sekarang saya tidak lagi menyalahkan pihak lain, dan juga tidak menyalahkan diri saya. Dengan kata lain, saya tidak mencari kambing hitam atas kegagalan saya. Namun lebih menitik beratkan analisa penyebab kegagalan tersebut. Hal ini bertujuan agar kedepannya saya tidak mengulangi kesalahan yang sama.

  • Arti hadir pasangan

Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya support pasangan sangatlah penting untuk bisa segera bangkit dari kegagalan. Saya sendiri menyadari, sering mengabaikan arti hadir pasangan dalam hidup saya. Saat itu saya menganggap pasangan itu hanya sebatas simbol, yang tidak terlibat seratus persen dalam setiap langkah saya. Ini sangat salah. Saat ini, ketika saya membuka diri dan membangun komunikasi dengan pasangan atas langkah-langkah yang akan saya lakukan, saya merasa mendapatkan kedamaian dan ketenangan dalam meraih mimpi saya. Jika jiwa kita telah tenang, maka otak pun bisa berkerja dengan maksimal.

  • Perbanyak Rasa Syukur

Poin ini sering diremehkan oleh banyak orang, dan saya termasuk diantaranya. Namun ketika saya putar langkah dari kebiasaan masa lalu saya dengan lebih banyak bersyukur, ternyata tanpa disadari saya telah memupuk kesabaran dalam hati saya. Ketika saya menerima cacian, makian dan hinaan, saya tidak lagi memandangnya sebagai reaksi negatif, namun saya anggap sebagai reaksi positif. Dengan mereka hujat saya berarti mereka sedang menegur saya dengan keras. Hal ini membuat saya segera menyadari kesalahan saya, sehinggan saya tidak larut dalam kesombongan yang mungkin sempat ada. Saya bersyukur karena masih ada orang yang peduli atas apa yang saya lakukan, meskipun cara mereka yang mungkin tidak sesuai harapan saya. Namun kembali ke sudut pandang tadi, saya hanya mengambil hikmah dari semua kejadian.

Saat ini, saya tengah menapaki tangga menuju jalan yang akan mengantarkan saya mencapai semua cita-cita saya. Saya telah jatuh beberapa kali, dan saya juga telah bangkit beberapa kali. Dan saya yakin untuk mencapai cita-cita saya yang hakiki saya pasti akan terjatuh lagi. Namun saya juga yakin seyakin-yakinnya, saya juga pasti akan bangkit lagi. Karena menurut saya, kebanggaan terbesar itu bukan tidak pernah jatuh melainkan selalu bangkit disaat kita jatuh.

Semoga bermanfaat

~Salam sukses~





Tuesday, November 25, 2014

Hati [pun] Bisa Mematikan Logika

Beberapa hari ini saya mengalami peristiwa yang sungguh tidak mengenakkan hati. Yang membuat perasaan saya terkoyak, dan air mata saya jatuh tidak tertahankan. Sungguh-sungguh.. sakitnya tuh disini.

Sebagai seorang perempuan saya memang termasuk salah satu diantara sekian banyak perempuan yang boleh di kasih label "cengeng' karena memang begitulah kenyataannya. Meskipun terkadang saya nampak tegar diluar, tapi sesungguhnya hati saya sering menangis.

Ketika masih lajang dulu, bantal - guling - sajadah adalah saksi bisu semua tumpahan air mata saya. Namun tidak lagi sekarang, karena sekarang saya sudah menikah. Jadi setiap kali hati saya terasa diaduk-aduk oleh masalah, saya pasti menangis, namun tak lagi mencari bantal dan teman-temannya itu sebagai sasaran tumpahan air mata saya, tetapi dada dan pundak suami lah yang selalu basah oleh airmata saya. Dan suami saya yang luar biasa itu dengan sabarnya akan menenangkan saya sehingga saya berhenti menangis. Owh .. sesuatu banget yah suami saya itu. He is so cool .. makin cinta dech .. :D

Akan tetapi ada yang mengejutkan dari suami saya kemarin sore. Saya tengah galau luar biasa, perasaan saya tak lagi terasa diaduk-aduk, tapi terasa seperti dirajang dan diblender dengan kecepatan tinggi. Air mata saya pun tumpah ruah ke jalanan. Dalam hati saya, sudah yakin dan berharap banyak, sang suami akan memeluk saya seperti biasanya, mengusap punggung saya dan menenangkan saya. Ternyata perkiraan saya salah, respon suami dingin tidak seperti biasanya. Bahkan dengan tegas dia berkata "sudahlah, jangan menangis lagi dihadapan saya".

Sontak kata-kata dia itu membuat saya terhenyak seakan tidak percaya dengan pendengaran saya. Ya Tuhan, sedemikian pelik masalah saya, jangankan mendapat solusi, bahkan menangispun saya tak boleh ? Untuk sesaat airmata saya memang kering tak bersisa, saya diam seribu bahasa. Namun hati saya semakin perih. Sudahlah perih oleh masalah, ditambah lagi perih oleh sikap suami, owh .. sakitnya tuh disini.

Semalaman saya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Meskipun suami bersikap seperti biasanya, namun hati saya masih diliputi tanda tanya yang sangat besar ? Ada apa dengan dia sore tadi ? Apakah ada masalah di tempat kerjanya ? Tapi kalau pun ada, biasanya dia selalu cerita. Bahkan pikiran buruk mulai menghampiri saya. Jangan-jangan dia sudah tak sayang lagi kepada saya. Pikiran-pikiran itu bergentayangan diruang benak saya hingga saya tertidur sampai pagi.

Siang ini, saya kembali dikejutkan oleh panggilan telepon dari suami saya. Sebenarnya adalah hal yang biasa dia menelpon saya disaat jam kerja, namun yang mengejutkan saya adalah kabar yang dia sampaikan.

Ternyata diam-diam dia mengurus masalah yang saya hadapi, dan dia menelpon untuk mengkonfirmasi beberapa hal sehubungan berita yang dia dapat. Sejenak saya speechless-lah dibuat dia. Mendengar saya terdiam, dia mengira saya menagis lagi, padahal tidak. "Kamu menangis ?" "Nggak..aku gak nangis" "Udahlah, gak ada gunanya menangis, Kamu harus yakin bahwa saya selalu ada buat kamu, dan kamu tidak sendirian menghadapi ini semua. Dan tunjukkan pada dunia, kamu yang sekarang bukanlah kamu yang dulu lagi yang lemah tak berdaya, tapi kamu yang kuat dan cerdas dalam menghadapi masalah."

Lagi-lagi saya terdiam mendengar kata-katanya. Ya Tuhan, dia tidak berubah, perhatian dan kasih sayangnya tidak berubah sedikitpun. Namun caranya yang dia perbaharui. Dia menyadari bahwa cara yang dia lakukan selama ini kurang tepat dalam membentuk saya.

Support yang dia berikan selama ini ketika saya terjatuh justru membuat saya manja dan ketergantungan kepada dia. Dengan sikap tegas yang dia tunjukkan kemarin, secara tidak langsung dia telah mendidik saya untuk tidak larut dalam perasaan melankolis, tapi justru harus cepat menggunakan logika agar bisa menganalisa masalah dengan cepat dan tepat.

Dan akhirnya saya menyadari, larut dalam perasaan melankolis ternyata bisa mematikan logika. Otak jadinya tidak berkerja, karena peredaran darah terhambat oleh hati yang menciut. Jadi dari kejadian ini saya belajar. Ketika masalah datang, sebesar apapun itu, jangan pernah libatkan perasaan dalam menghadapinya, namun utamakan logika. JIka logika telah mampu mengurai akar permasalah dengan baik, maka silahkan libatkan perasaan untuk mengukur kadar tindakan yang akan diambil.

Suamiku, tiada kata yang mampu ku ucapkan selain terimakasih yang sebanyak-banyaknya. Kamu memang luar biasa, bijaksana dan tenang.

Yes.. you are so cool. Luph U babe ..
This entry was posted in

Friday, October 31, 2014

shame just makes you stop trying

Percayakah anda bahwa hidup itu adalah sebuah tindakan percobaan yang tiada henti ?

Saya percaya, bahwa hidup itu adalah sebuah tindakan percobaan yang tiada henti. Dari kita bayi hingga dewasa sekarang ini semuanya adalah hasil dari percobaan-percobaan yang kita lakukan tanpa henti. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya saya jika ketika bayi saya berhenti mencoba untuk berdiri. Mengapa saat itu ketika kita masih balita, ketika akal dan fikiran kita belum berkerja, namun kita tidak pernah berhenti mencoba. Mengapa justru disaat sekarang ini, ketika dewasa, ketika otak telah mencapai ukuran maksimalnya, ketika akal dan fikiran kita telah berkerja, banyak diantara kita yang berhenti mencoba lalu duduk diam dan tenggelam dalam putus asa.

Ketika bayi, kita belum dilengkapi dengan rasa malu. Jadi saat itu, ketika seisi dunia menertawakan kegagalan kita, menganggap lucu kebodohan kita, kita tidak peduli (bahkan ikut tertawa bersama mereka). Tanpa memperdulikan semua itu kita terus mencoba-dan mencoba tanpa henti.

JIka sekarang kita analogikan kondisi kita adalah bayi tadi. Mari kita buang rasa malu yang hanya akan membuat kita berhenti mencoba. Tebalkan saja muka dan hadapi dunia untuk terus mencoba agar kita bisa bangkit dari kegagalan. Tidak perlu lama-lama pelihara rasa malu, karena rasa malu itu adalah penghambat untuk kita maju.

Selalu instrospeksi diri, kenali penyebab kegagalan dan kembali bangkit untuk mencoba. Semua ejekan, cemoohan bahkan mungkin hinaan yang ditujukan pada kita, anggaplah itu sebagai pemantik api untuk mengobarkan semangat juang kita. Yakinlah suatu saat ketika kesuksesan berada digenggaman, maka kegagalan itu akan jadi kenangan.

~Semoga bermanfaat~

Penyakit Media Indonesia

Perkembangan media di Indonesia belakangan ini memang sangat signifikan. Hal ini terlihat jelas dibandingkan masa pemerintahan yang sebelumnya. Untuk satu hal ini, saya rasa kita layak berterimakasih kepada Presiden SBY yang telah memberikan ruang gerak luar biasa bebas kepada media di Indonesia.

Namun ada beberapa hal yang saya kurang sukai dari kebebasan media di Indonesia, terutama sekali yang nampak akhir-akhir ini. Kalau boleh dibilang, saya lebih senang menyebutnya dengan istilah 'penyakit', karena fenomena ini sifatnya mewabah dan menular dari satu media ke media yang lain.

Apa saja sih penyakit media Indonesia itu ?

Ini dia jawabannya :

1. Memuji setinggi langit, jatuhkan ke dasar jurang terdalam

Dalam beberapa artikel di media cetak atau media online, dan juga dalam beberapa tayangan di media televisi, penyakit media Indonesia yang sangat tidak menyenangkan adalah "memuji setinggi langit". Ketika memberi komentar tentang seorang tokoh yang dianggap fenomenal kecendrungan media Indonesia selalu memuji dan mengagung-agungkan tokoh tersebut, sehingga menimbulkan persepsi di tengah-tengah masyarakat bahwa tokoh itu sangat suci, sangat baik, dan mulia bagaikan dewa. Bahkan terkadang menggunakan kata-kata lebay yang berlebihan. Hal ini juga berlaku untuk tokoh yang dianggap buruk. Tentu saja bukan pujian setinggi langit yang diberikan, justru semua hujatan dan cacian dikerahkan untuk meremukkan karakter tersebut, seolah-olah tak ada lagi sisi positif yang tersisa pada tokoh tersebut. Sangat susah ditemukan media yang memberikan berita yang berimbang, yang menghadirkan sisi kelam seorang nara sumber sebagai pelajaran bagi masyarakat, namun juga tidak menutupi semua hal baik yang ada sehingga hal-hal baik pada tokoh tersebut masih bisa dijadikan tauladan bagi masyarakat.

2. Rumput tetangga lebih hijau

Entah sengaja atau tidak, pemberitaan di media Indonesia selalu mirip satu sama lain. Misalnya pada satu televisi sedang memberitakan peristiwa kriminal disuatu tempat. Selang beberapa saat, berita yang sama juga ada di televisi lainnya dengan gambar atau video yang sama. Seharusnya meskipun sumber berita adalah sama, namun dalam penyajian berita dan gambar atau videonya hendaklah berbeda, sehingga masyarakat bisa mendapatkan informasi yang lebih variatif. Bukan informasi yang duplikasi dari berita yang lainnya. Kecuali untuk kasus tertentu yang gambar atau video tersebut adalah hasil kiriman video amatir dari pemirsa tertentu.

3. Berita pesanan ?

Berita pesanan ini adalah salah satu bahan berita yang menurut saya sangat tidak adil untuk masyarakat, karena masyarakat disuguhi berita yang tidak lagi murni, namun telah mendapat suntingan terlebih dahulu dari pemesan berita yang dalam hal ini tentu diwakilkan kepada redaksi berita itu sendiri. Berita-berita semacam ini biasanya terjadi dalam kasus-kasus yang melibatkan tokoh-tokoh politik atau pun public figure. Misalnya saja, berita tentang kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak pejabat. Coba saja saksikan dengan seksama kronologis berita ini dari awal diberitakan hingga ketika 'masalah' telah dianggap usai alias damai dengan pihak korban dengan cara kekeluargaan. Kita bisa saksikan ada perubahan sikap yang sangat nyata dari pihak korban ketika mereka diwawancarai. Terkesan tidak lepas dan ada yang ditutupi. Disinilah peranan 'pesanan' itu bermain.

Semoga saja, di era pemerintahan Presiden Jokowi sekarang ini, media Indonesia bisa menyembuhkan penyakitnya, sehingga masyarakat betul-betul mendapatkan materi pemberitaan yang sifatnya informatif dan edukatif. BUkan hanya sekedar memberitakan, namun dengan porsi berita yang berimbang secara tidak langsung masyarakat telah dididik untuk lebih bijak dan cermat.

Semoga bermanfaat

~Salam Sukses~

This entry was posted in

Wednesday, October 29, 2014

As You Will

Aku telah hidup selama 33 tahun, yang 20 tahun diawal adalah hidup 'cara' mereka, dan 13 tahun terakhir adalah cara ku sendiri. Selama 13 tahun aku mengemas mimpi yang sampai detik ini masih menggantung tanpa asa. Ketika mereka yang menghadirkanku kedunia ini tiada, semua mimpi yang ada dikepalaku harus rela terhempas dan berderai tak bersisa. Kemudian dengan tertatih dan penuh nyeri kaki ini kembali melangkah, tangan ini kembali mencoba mengumpulkan semua butiran mimpi yang terurai, dan berusaha menyatukannya dalam satu wadah yang saya sebut dengan harapan.

Hati ini tercabik perih, ketika menghadapi kenyataan ternyata hidup tak seindah mimpi. Mereka yang kupandang agung, ternyata berpaling menyisakan punggung. Aku yang bingung, hanya mampu diam lalu meneruskan langkah dengan terhuyung. Namun aku pantang menyerah, dengan semua tenaga yang tersisa, aku kuatkan tekad, as you will, I'll do with my own way.

Dengan langkah terseok-seok, ku jejakkan kaki ini pada anak tangga impian. Hati miris, namun otak tetap memaksa untuk optimis. Meskipun gamang, karena pijakan yang terlalu kecil. Meskipun nyali ciut, karena tangga yang begitu terjal, licin dan panjang. Kata-kata pesimis kembali menggerayang dikepala, hati pun menyusut karena putus asa. Namun semangatku kembali dikobarkan oleh kilas balik masa lalu. Pahit getirnya perjuangan untuk sampai ditahap ini. Betapa semua sia-sia jika aku berhenti disini. Betapa semakin lebar tawa mereka, betapa semakin lengkin suara mereka. Tidakkk  !! aku tidak akan berhenti sampai disini. As you will, I'll do with my own way !

Manusia itu makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain, khususnya adalah mereka yang disebut keluarga. Hati ini meraung dengan keras ketika otak membisikkan kata keluarga. Nurani terdalam pun menjelaskan arti keluarga dengan dahsyatnya. Keluarga adalah orang-orang yang terhubung akan ikatan darah, yang tumbuh bersama dalam kasih sayang, saling support dan membahagiakan. Batinku berontak, sukmaku bergejolak. Mana ?? Dimana mereka yang disebut keluarga itu ? Selama 13 tahun aku tidak bisa merasakan arti hadir mereka. Ada apa dengan diriku ? Mengapa aku tidak bisa merasakan keberadaan mereka, padahal mereka ada disekitarku ?

Mataku nanar, kakiku gemetar. Arrgghh ! Aku yang bodoh ! Aku yang egois ! Aku yang skeptis !

Tapi tunggu dulu .. tidak .. tidak .. aku tidak bisa menyalahkan diri sendiri seperti ini. Aku harus mengasihani diri ini, karena dia telah terlalu lelah untuk dipersalahkan. Aku harus tenang, dan mulai berfikir logis. Ikatan darah ? Ya, mereka memang memiliki ikatan darah denganku. Ya, berarti mereka adalah keluarga. Tumbuh bersama ? Hmm.. sebagian dari mereka memang tumbuh bersama denganku. It's Ok, mereka adalah keluarga. Dalam kasih sayang, saling support dan membahagiakan. Kasih sayang ? entahlah. Kok hati ini mati rasa ya ? Tidak bisa merasakan kasih sayang itu. Support ? apa lagi support, rasa-rasanya kok ga pernah kelihatan ? Seperti apa ya bentuknya ? apakah bulat seperti lingkaran ? atau petak seperti persegi ? I have no any idea 'bout that. Kemudian Saling membahagiakan, kata-kata saling itu kira-kira sama dengan take-and-give bukan ? Memberi bahagia, lalu menerima bahagia. Aku tanya diri sendiri, kapan terakhir aku memberi bahagia untuk mereka ? ..... :-? entahlah aku sendiri lupa, atau mungkin memang tidak pernah melakukannya ? Kapan ya terakhir kali menerima bahagia dari mereka ? ..... entahlah aku juga lupa, atau mungkin juga memang belum ada pemberian bahagia dari mereka.

So.. What's going on with me, Who am I ? Who are they ? Where do I live ?

Well, I don't know exactly.

Which I know is I live in my own way

So .. whatever you said .. I'll do with my own way

Now .. as you will .. this is me

This entry was posted in

Tuesday, October 28, 2014

The Most Important is Attitude

Sekarang sedang ramainya orang membicarakan tentang seorang anak desa yang jadi Menteri. Banyak hujatan datang karena latar belakang pendidikannya yang dianggap tidak layak untuk menjadikannya seorang Menteri. "Bahkan untuk menjadi seorang OB dikantor-kantor saja saat ini minimal adalah tamatan SMU, masa' sih tamatan SMP jadi Mentri, ya ga pantas lah !" Demikian salah satu tanggapan masyarakat yang mengomentari hal ini. Namun juga tidak sedikit yang mendukung si Ibu ini jadi Menteri. "Alaaaahh.. sarjana sekarang mah bukan jaminan untuk seseorang itu lebih pintar. Justru mereka-mereka yang pendidikannya lebih rendah itu lebih ulet dalam berkerja. Lihat saja konglomerat Indonesia seperti Bob Sadino itu. Sekolah aja gak tamat, tapi lihat dia bisa juga berhasil. Kaya raya lagi !". Tanggapan lainnya dengan berapi-api.

Keputusan Presiden Jokowi dalam menempatkan Ibu Susi Pudjiastuti ini dalam jajaran Mentri di Kabinetnya memang sangat fenomenal. Mungkin dalam sejarah dunia sekalipun, peristiwa ini baru pertama kali terjadi. Sebagai seorang yang terpelajar dan disekitarnya juga berada orang-orang terpelajar, saya yakin keputusan Presiden Jokowi pasti telah melewati proses yang matang dan beliau juga pasti telah mempertimbangkan dengan baik efek-efek yang akan timbul pasca pengumumannya itu.

Saya pribadi tidak bisa menempatkan opini saya pada satu pihak dengan yakin. Karena hati kecil saya mengamini semua pro kontra yang ada saat ini. Disatu sisi saya setuju dengan pendapat sebagian kalangan yang menyatakan seorang Menteri itu haruslah dari kalangan terpelajar dan berpendidikan tinggi. Karena semua ilmu yang dia dapat dari jenjang pendidikannya itulah yang diharapkan mampu mengarahkannya dalam membuat kebijakan demi kemajuan bangsa. Namun disisi lain hati saya berkata, bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik. Untuk seorang Susi yang notabene hanyalah seorang berpendidikan rendah, namun dalam kenyataannya dia mampu mencapai kesuksesan dalam usaha yang dia bangun dari nol, apalagi yang bisa mendidik dia dengan sangat baik jika bukan pengalamannya ? Saya rasa pengalamanlah yang membuat dia memiliki ilmu yang luar biasa itu. Bedanya adalah sarjana memiliki ijazah, namun dia tidak.

Mata kepala saya sering menjadi saksi bahwa banyak sarjana yang bahkan dari universitas terbaik dinegeri ini justru tidak mampu menjadikan dia menjadi pribadi yang sukses. Ternyata ilmu yang dia peroleh dari bangku universitas tidak bisa dia terapkan dengan baik. Jangankan untuk menyukseskan orang-orang disekitarnya, menyukseskan dirinya sendiri pun tidak bisa. Coba kita bandingkan dengan sosok Ibu Susi tadi. Dia hanya lulusan SMP, namun arti hadirnya telah dirasakan oleh masyarakat disekitarnya. Dengan ilmunya yang 'tidak seberapa' itu dia telah menjadi 'the change maker' bagi masyarakat disekitarnya.

Sekarang yang menjadi persoalan berikutnya adalah soal 'sikap' ibu kita yang dianggap sebagian besar orang 'kurang sopan'  dan terkesan 'preman'. Sebut saja seperti tato di kaki dan rokok yang mengepul ditangannya. Negara kita memang masih memandang tabu' untuk seorang wanita yang merokok. Bahkan ada masyarakat yang memandang negatif wanita yang merokok dan mencapnya sebagai 'wanita yang tidak baik'. Ditambah lagi pemerintah kita sedang giatnya menggalakkan budaya hidup sehat dengan menjauhi rokok. Salah satu bentuk dukungan pemerintah adalah dengan adanya upaya Kementrian Kesehatan merubah slogan yang ada pada rokok. Nah dengan dipilihnya seorang Mentri wanita perokok dalam jajaran kabinetnya seolah-olah Presiden Jokowi bersikap sebagai orang yang 'pro' rokok. Buktinya saja Mentrinya merokok. Wanita pula. Whew :/

Hal tersebut diatas adalah menjadi alasan mengapa postingan ini saya beri judul The Most Important is Attitude !

Seandainya saja, sosok ibu Susi yang kontroversi ini bukanlah seorang yang merokok dan tidak bertato, saya yakin masyarakat tidak akan sedemikian hebohnya dalam memberi komentar. Karena seorang Mentri adalah tangan kanan Presiden yang semua tingkah lakunya akan menjadi sorotan masyarakat dan menjadi teladan bagi putra-putri penerus bangsa kelak.

Tidak bisa dipungkiri sikap dan penampilan adalah hal pertama yang dinilai pada diri seseorang. Sepintar apapun seseorang  jika tidak memiliki tata krama dan sopan santun yang baik juga tidak bagus. Pada dasarnya ijazah hanyalah sebuah bentuk pengakuan atas ilmu seseorang yang diberikan dalam bentuk kertas. Diatas itu semua ada yang lebih dari sekedar ijazah, yaitu attitude dan  implementasi dari ilmu itu sendiri. Jika ilmu yang dimiliki hanya berada pada selembar kertas ijazah, tidak akan ada artinya dalam hidup selain hanya untuk sebuah prestise saja. Ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu yang mampu diterapkan dan dikembangkan khususnya bagi orang-orang di lingkungan sekitar kita, dan untuk negara dan bangsa pada umumnya.

So .. what ever I said, wouldn't be able to change anything.

To Mrs Susi, congratulations ! We are waiting for your breakthrough !

Semoga bermanfaat

~Salam Sukses~

Friday, October 24, 2014

A Great lesson from Aira

Aira adalah putri saya yang saat ini berusia 4 tahun 11 bulan. Tanggal 2 November nanti dia genap berusia lima tahun. Kurang-lebih sekitar akhir September yang lalu saya dikejutkan oleh pertanyaan yang diajukan oleh gadis kecil saya itu. Kira-kira percakapan kami sebagai berikut :

Aira : Bunda, tablet tu mahal Nda ?

Saya : Tablet ? (dia mengangguk) O iya nak mahal. Kenapa nak ? Aira mau tablet ?

Aira : (dengan mata berbinar) iya Nda, Aira mau tablet. Suka Aira main game di tablet.

Saya : Kalau Aira mau tablet, Aira harus rajin menabung, dan kurangi jajannya. Nanti kalau uang Aira sudah banyak baru deh kita beli tabletnya

Aira : Menabung ? Seperti ini Nda ? (berlari kedalam, kemudian muncul lagi dengan membawa celengannya kehadapan saya)

Saya : (diam sesaat dan berfikir untuk menolak dengan halus) Iya, pintarnya anak bunda rajin menabung. Gini aja, nanti kalau Aira sudah bisa membaca, Bunda dan Ayah akan belikan tablet untuk Aira. Bunda janji !

Aira : (dia terlihat bingung) membaca ? (saya mengangguk) mengapa ?

Saya : Karena kalau Aira belum bisa membaca nanti Aira susah main tabletnya trus jadi ga bisa main gamenya.

Aira : (dia diam, sepertinya mengerti lalu lanjut bermain lagi)

Dua minggu kemudian, ketika saya dan suami pulang berkerja, kami berdua dikejutkan oleh Aira yang menunggu kami didepan pintu. Ini sedikit aneh, karena biasanya setiap kami pulang kerja, dia tidak bergeming dari layar TV karena asyik menonton film kartun favoritnya.

Aira : Ayah ! Bunda ! (sapanya dengan suara riang)

Saya : Assalamu'alaikum sayang bunda ? Udah mandi ?

Aira : Udah, nenek yang mandikan. Ciumlah ! (dia menyodorkan kepalanya kepada saya)

Saya : Mmm .. wanginya ..

Aira : E .. eh .. bunda lihatlah ! lihat sini ! (dia berlari kedalam, dan saya ikuti dari belakang) Lihat ni Nda (dia menunjukkan buku yang penuh dengan gambar dan coretannya)

Saya : waahh !! bagusnya gambar anak bunda !

Aira : iyalah, Aira kan pintar (dia tersenyum bangga) Lihat ni Nda, 'upin ipin bermain bola'

Saya : (kaget, karena dia membaca tulisan yang ada dibawah gambar yang dia buat) wah ! Anak bunda sudah bisa membaca ya ?

Aira : Iyalah (dengan antusias)

Saya : (masih tidak percaya) Coba bunda test, ayo ini bacaannya apa ? (menunjukkan sampul buku yang bertuliskan 'Aku tidak malu')

Aira : aku tidak malu

Saya : kalau yang ini (menunjukkan tulisan "Upin & Ipin Kembara Kecil-kecilan)

Aira : Upin ipin kembara kecil kecilan

Saya : (takjub, speechless dan bersyukur dalam hati, saya peluk dia dengan erat)

Malamnya, saya berbincang dengan suami membicarakan tentang perkembangan Aira yang menurut saya cukup signifikan. Karena saya masih ingat dengan jelas, dua minggu yang lalu dia masih belum bisa membaca dan masih kesulitan dalam mengeja dan menghapal suku kata. Namun dalam kurun waktu yang singkat dia telah bisa membaca dan menulis dengan lancar. Buat saya itu sungguh sesuatu hal yang amazing.

Saya berbicara disini bukan bermaksud membanggakan anak saya karena saya yakin diluar sana banyak anak-anak yang jauh lebih hebat dan pintar dari pada Aira. Tapi yang menjadi nilai plus bagi saya adalah kegigihan dan keuletan dia dalam memperoleh "tablet impiannya". Entah benar atau tidak, tapi filling saya mengatakan, bahwa percakapan kami yang beberapa hari sebelumnya tentang "dia harus bisa membaca dulu kalau mau memiliki tablet" sepertinya menjadi suatu motivasi sendiri bagi dirinya. Tanpa kami paksa dan tanpa kami suruh, setiap hari dia berlatih tanpa lelah. Dan dia pun menemukan caranya sendiri untuk bisa memahami suku kata dengan baik. Dari yang saya lihat, dia mulai dengan membuat gambar-gambar tokoh atau kartun kesukaannya, dari nama-nama, kemudian dia mulai menambahkan atribut pada tokoh itu seperti kegiatan, kesukaan dan ekspresi. Ketika dia tidur, saya dan suami membuka lembaran demi lembaran buku coretannya. Ada berbagai macam tokoh yang dia gambarkan disana, seperti Keropi, Pororo, Upin & Ipin berikut kawan-kawannya, Marsha tanpa beruangnya, Timmy Time, Spongebob, Patrick dll. Kemudian dibawah gambar tokoh dia menulis 'Pororo sedih', kodok tertawa, dll.

Hari ini dengan penuh haru saya mengatakan bahwa dari seorang Aira, saya mendapat pelajaran yang sangat berharga, bahwa :

  • hidup itu harus memiliki target atau impian yang ingin dicapai

  • tidak menyerah ketika mendapat tantangan

  • tidak berkecil hati ketika orang lain meremehkan kemampuan diri

  • rajin, gigih dan ulet dalam berlatih

  • konsisten pada tujuan

  • kreatif, tidak terpaku pada satu metode

  • penuh syukur atas semua yang dimiliki

Terimakasih Aira, telah menjadi inspirasi bagi Bunda. Bunda & Ayah will always love you.



~ Semoga bermanfaat ~

Thursday, October 16, 2014

Living with Disability

Beberapa hari ini saya menyaksikan sebuah talkshow yang tayang di salah satu TV swasta tanah air. Yang membuat saya takjub dan terharu adalah bintang tamu yang dihadirkan disana yaitu para penyandang cacat fisik. Mungkin sebagian kita ada yang menyebutnya diffabel atau disabilitas. Orang-orang ini tak dianugerahkan dengan fisik yang sempurna seperti kita. Namun semua hal tersebut tak membuat mereka menyerah dari keadaan. Disela keterbatasannya, mereka justru menunjukkan prestasi luar biasanya.

Pernahkan anda bayangkan jika anda yang berada di posisi mereka ? Masih bisakah anda tersenyum dengan lepas ? Masih bisakah anda tertawa dengan riang ?

JIka pertanyaan itu diajukan kepada saya, jujur saya katakan, saya mungkin tidak akan sanggup menjalani hidup seperti yang mereka jalani. Karena saya mengakui jiwa saya tidak sehebat mereka yang mampu menghadapi kerasnya dunia ini dengan semua keterbatasan yang mereka miliki.

Lihatlah foto-foto berikut, mereka dengan lantang menunjukkan kepada dunia betapa keterbatasan mereka bukanlah suatu halangan bagi mereka dalam mencapai mimpi. Sungguh begitu banyak pelajaran yang bisa saya petik dari perjuangan mereka yang tanpa lelah itu.







Terkadang saya malu kepada diri sendiri bahwa betapa egois dan kerdilnya saya yang terkadang suka mengeluh dengan keadaaan. Padahal yang saya keluhkan itu bukanlah sesuatu yang 'teramat' penting, hanya hal-hal sepele yang tidak saya sukai namun hadir dalam hidup saya. Seperti rasa bosan, malas, suntuk dan sebagainya. Ketika saya melihat mereka-mereka ini yang dikarunia fisik tidak sesempurna saya, adalah wajar jika mereka mengeluh, bahkan adalah wajar jika mereka berkata "Tuhan tidak adil". Tapi itu tidak mereka lakukan. Mungkin pernah tersirat dipikiran mereka. Namun mereka menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada gunanya menyesali pemberian Tuhan. Bukankah Tuhan itu punya rencana yang Maha Indah ? DIA tidak akan membebankan sesuatu hal yang tidak mampu dipikul hambanya. Mereka meyakini sepenuh hati bahwa mereka adalah manusia-manusia pilihan yang sangat istimewa dihadirkan oleh Tuhan dimuka bumi untuk menunjukkan kebesaran Kuasa NYA dan keajaiban MukjizatNYA.

Living with a Man with Disability


Hari ini, telah 2090 hari saya hidup bersama belahan jiwa saya yang adalah bagian dari 'mereka' itu. Dia sungguh pria yang sangat luar biasa. Selama menjalani hidup bersamanya tak pernah sekalipun saya mendengar dia mengeluh dan mengatakan bahwa dia tidak mampu.  Meskipun menurut saya yang dilakukannya adalah sulit, bahkan bagi orang normal sekalipun, akan tetapi terbukti didepan mata saya sendiri dia mampu melakukan perkerjaan itu. Bahkan ketika banyak yang menolak resumenya dalam melamar perkerjaan dia tak pernah menampakkan kekecewaannya dihadapan saya. Dia tetap tersenyum dan dengan lembut dia menatap saya sambil meminta maaf. Apa yang harus dimaafkan ? Dimata saya sedikitpun dia tidak bersalah. Bahkan dia memiliki kualitas yang 'mungkin' lebih baik dari mereka yang normal. Hanya saja kesempatan yang diberikan kepada orang-orang seperti mereka masih sangat terbatas. Diam-diam sering saya menitikkan air mata haru dibelakangnya. Betapa besar rasa syukur saya karena sang Maha Cinta telah menyatukan kami.

Ketika awal-awal pernikahan kami, banyak orang yang mencibir pilihan saya. Bahkan tidak sedikit yang mengatai saya dengan sebutan buta, bodoh, tolol, telah diguna-gunai dan banyak lagi lainnya. Bahkan yang terkejamnya adalah ketika mereka berkata "percuma saja sekolah tinggi-tinggi, jabatan hebat, gaji besar, tapi dapat suami kok c***t begitu". Astaghfirullah, saya beristighfar dalam hati. Memohon ampun atas dosa saya karena telah membuat orang lain ikut berdosa atas pilihan saya. Tapi semua itu tidak lantas membuat saya bergeming dengan pilihan saya. Karena dari yang saya tahu semua manusia ini adalah sama di mata Tuhan, yang membedakan bukanlah fisik dan segala atribut yang melekat padanya, namun hanya iman dan ketaqwaan semata.

Bagaimana dengan anda ?

Apakah anda merasakan yang sama dengan apa yang saya rasakan ?

Masih wajarkah kita mengeluh akan sulitnya hidup dengan kesempurnaan fisik yang kita punya ?

Masih wajarkah kita putus asa atas kegagalan yang kita alami ?

Masih pantaskah kita mengatakan Tuhan itu tidak adil ?

Jika semua pertanyaan tersebut diatas anda jawab dengan 'wajar, pantas dan boleh', mari kita lihat mereka-mereka yang hidup dengan keterbatasan ini. Mari kita lihat dan resapi setiap jengkal perjuangan yang mereka lakukan untuk bertahan hidup. Saya yakin jika saya, anda, kita semua bisa memaknai perjuangan mereka, maka kita akan tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih menghargai hidup ini.

Semoga bermanfaat

Salam sukses selalu

Thursday, October 9, 2014

Sense of Pride

Rindunya sama blog saya ini, satu minggu lebih waktu saya tersita oleh beraneka ragamnya laporan yang kudu di selesaikan. But finally, thanks to GOD, all report are done ^_^

Kali ini saya ingin membahas tentang perasaan BANGGA. Teman-teman pernah merasa bangga bukan ? Sama, saya pun pernah merasakannya. Bahkan sering hehehe

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia bangga itu berarti "besar hati, merasa gagah (karena memiliki keunggulan)". Jika kata 'bangga' ini di input di mesin translatornya Google, maka di dapatlah sinonim atau persamaan kata dari bangga itu yaitu "gaduk, angkuh, congkak, bongak, megah, sombong, anggak, pongah, berbesar hati, lantam, kocak"

Mengapa sih saya membahas tentang ini ? Mungkin sebagian dari teman-teman akan ada yang merasa bahwa bahasan saya ini tidak penting. Tidak apa-apa, semua orang berhak menentukan apa yang penting dan yang tidak dalam hidup mereka. Sedikitpun saya tidak kecewa. Bagi yang merasa bahasan saya ini cukup 'penting' yuk mari kita lanjutkan :)

Menurut saya perasaan 'bangga' itu berbahaya. Nah lho ?? Mengapa bisa begitu ?

Iya, memang bisa. Karena dengan adanya perasaan bangga pada diri seseorang, maka secara tidak langsung didalam hatinya dia telah merasa unggul dari orang lain. Perasaan merasa unggul ini akan menimbulkan perasaan sombong dan meremehkan orang lain. Mari kita coba renungkan rasa-rasa bangga yang kita miliki akhir-akhir ini. Sebagai contoh, saya memiliki kenalan yang sangat bangga dan membanggakan almamaternya. Sebenarnya saya memaklumi perasaan bangga yang dia punya, karena memang dia adalah lulusan dari Universitas ternama di Indonesia. Namun tanpa disadarinya dari sikap dan kata-kata dia ketika bercerita tentang kampusnya itu secara tidak langsung dia telah meremehkan universitas lainnya. Padahal semua kita juga tahu, bahwa lulusan universitas terbaik pun bukanlah jaminan atas kesuksesan seseorang. Banyak kok yang lulusan dari Universitas yang 'biasa' saja namun sukses dalam karirnya.

Saya sendiri, pernah merasa bangga akan skill yang saya miliki. Namun entah mengapa, setiap kali dihati saya terselip rasa bangga, maka perkerjaan yang saya lakukan selalu tidak berhasil dengan baik. Kok bisa ya ?? Terkadang saya bingung juga dibuatnya. Rasa-rasanya saya telah melakukannya dengan sesempurna mungkin, tapi hasilnya tidak se 'wah' yang saya bayangkan. Hal inilah membuat saya merenung dan berfikir lebih dalam. Dan jawabannya adalah rasa bangga saya tadi. Ketika saya merasa bangga atas skill yang saya miliki maka saya pun mulai meremehkan hal-hal kecil. Padahal sekecil apapun 'hal' itu, jika tidak dilakukan dengan baik, juga tidak akan berhasil dengan baik.

Apasih bentuk peremehan yang saya lakukan itu ? ternyata tanpa saya sadari saya telah meremehkan waktu, dengan menunda-nunda perkerjaan. Karena dengan skill yang saya miliki saya merasa mudah dan gampang melakukannya. Namun satu hal yang saya tidak sadari, semudah apapun perkerjaan jika ditunda melakukannya, maka akan menumpuk dan semakin menumpuk. Nah jika perkerjaan itu telah menumpuk, maka selihai apapun skill yang dimiliki pasti tetap membutuhkan energi yang lebih dalam melakukannya. Mengapa demikian ? Karena ketika kita berhadapan dengan tumpukan perkerjaan maka adalah alami jika kita merasa stress, kurang fokus, dan jadinya kurang teliti. Tentu saja teman-teman paham apa yang akan terjadi jika kita kurang teliti dalam berkerja. Ya.. akan banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi. Jika kesalahan telah terjadi, apa selanjutnya ? Harus sering melakukan revisi dan revisi. Ketika melakukan revisi atas perkerjaan yang sebelumnya, bukankah perkerjaan yang baru akan muncul terus minta untuk segera diselesaikan ? Bisa dibayanngkan betapa stressnya kita jika terjadi seperti itu.

Jadi kesimpulan saya, perasaan bangga itu berbahaya dan tidak berguna. Jika memang memiliki kelebihan dan keunggulan cukup syukuri dalam hati, dan tanamkan pada diri kita masih banyak orang lain yang jauh lebih baik dari kita. Karena setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tak perlu merasa bangga dengan kelebihan yang kita miliki, dan tak perlu juga merasa malu dengan kekurangan  yang ada pada kita . Tuhan menciptakan manusia itu berbeda-beda, ada yang kurang ada yang lebih adalah untuk saling melengkapi. Tak perlu merasa bangga jika bangga itu justru bisa menyakiti orang lain. Tak perlu merasa bangga jika bangga itu justru membawa kita pada kehancuran.

Semoga bermanfaat.

Salam sukses untuk kita semua



Wednesday, October 1, 2014

Perkerjaan Impian

Jika ditanya tentang Perkerjaan Idaman, aku yakin banget hampir semua orang akan menjawab "Perkerjaan dengan resiko kecil, tapi bayarannya besar". Karena aku sendiri adalah yang termasuk diantaranya.

"Emangnya ada perkerjaan yang seperti itu ?"
"Ada."
Ya, memang ada kan perkerjaan yang seperti itu, resiko kecil, bayarannya besar, yaitu jadi "aktor/aktris". Bisa dibilang perkerjaan ini sangat kecil resikonya.

Tapi sayangnya ga semua orang bisa menjadi aktor dan aktris kan ?
Untuk menjadi seorang Aktor/Aktris tidaklah mudah, karena kamu harus memiliki kriteria sebagai aktor/aktris dulu maka baru bisa menjadikan "aktor/aktris" sebagai profesi. Untuk  kriterianya aku nggak akan bahas disini, karena aku merasa kurang kompeten membicarakannya.

Now, back to the topic, yaitu Perkerjaan Impian.

Selain menjadi Aktor/Aktris, ada nggak perkerjaan dengan resiko kecil yang menyediakan bayaran yang besar ?

Aku sendiri masih ragu, karena memang rasa-rasanya nggak ada lagi perkerjaan yang bayarannya besar yang nyaris tanpa resiko.

Trus gimana dong dengan aku dan kamu-kamu yang nggak memiliki kemampuan untuk menjadi aktor/aktris tapi menginginkan perkerjaan yang bayarannya besar ?

Menurut aku nih ya, suka atau enggak, kita harus menerima kenyataan dengan lapang dada, dan mencari alternatif perkerjaan lain. Yang mungkin bayarannya tidak sebesar bayaran para aktor/aktris, namun dari segi resiko juga tidak besar-besar amat.

Apa saja jenis perkerjaan itu ?

Nah berdasarkan penelitian yang aku lakukan melalui Searching Engine ternama yaitu  "Mbah" Google maka didapatlah daftar perkerjaan dengan bayaran terbesar didunia.

Apa saja itu ? Ini dia 10 Perkerjaan Dengan Bayarang Terbesar

1. Pilot Pesawat Komersial

Menjadi seorang pilot memang tidaklah mudah, karena untuk menjadi seorang pilot kamu harus terlebih dahulu mengikuti pendidikan di sekolah penerbangan yang tentu saja juga dengan biaya pendidikan yang nggak sedikit.

Tapi semua itu cukup impas dengan gaji fantastis yang ditawarkan oleh pihak maskapai penerbangan. Catat saja maskapai penerbangan ternama seperti Lion Air yang menggaji pilotnya dengan rata-rata 45 juta rupiah perbulannya. Sedangkan pihak maskapai Garuda Indonesia mengklaim bahwa mereka menggaji pilot mereka lebih besar yaitu sekitar 70 juta rupiah setiap bulannya.

Fantastis buanget kan ?

Tapi jangan ditanya soal resiko ya, gais. Perkerjaan ini juga masuk dalam daftar perkerjaan dengan resiko kematian terbesar lho.

2. Ahli Teknik Perminyakan

Sejalan dengan pilot tadi, untuk menjadi seorang Ahli Teknik Perminyakan juga nggak mudah, karena sebelum itu kamu harus melewati pendidikan di Universitas yang menyediakan jurusan Teknik Perminyakan. Dan biaya pendidikannya sudah pasti juga nggak murah.

Namun semua biaya pendidikan yang besar tadi akan menjadi tidak berarti jika kamu telah berkerja sebagai salah satu ahli teknik perminyakan. PT. Pertamina sebagai perusahaan minyak nasional memberikan rata-rata gaji untuk fresh graduate minimal Rp7 juta per bulan. Sedangkan untuk senior level gaji yang didapat bisa mencapai Rp150 juta per bulan. Gilla ! Gaji aku setahun ittuuuuhh.

Sebenarnya di Indonesia sendiri, gaji seorang ahli perminyakan termasuk yang paling kecil dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia, yang menggaji ahli perminyakan mereka hingga Rp500 juta perbulannya. Ck..ck..ck

3. Human Resources Manager

Disebut juga Manager HRD. Bedasarkan survei yang dilakukan oleh Kelly Services, Inc. pada rentang tahun 2012-2013, gaji seorang manajer HRD (Human Resources Department) yang memiliki pengalaman kerja lebih dari 5 tahun bisa mencapai maksimal Rp75 juta per bulan. Tentunya hal ini sebanding dengan beban kerjanya, karena ia bertugas mengepalai sebuah departemen yang fungsinya merekrut dan memberdayakan sumber daya manusia terbaik demi kelangsungan perusahaan.

Dan biasanya nih ya, jabatan ini diisi oleh orang-orang yang lulus dari jurusan Psikologi. Nah, kamu sekarang mahasiswa psikologi ? Good, berarti ada harapan bagi kamu untuk menduduki jabatan strategis ini nih.

4. Dokter Spesialis

Gaji sebagai seorang dokter spesialis di Indonesia memang tidak memiliki standar yang sama apalagi jika membandingkan dokter spesialis yang praktek di rumah sakit pemerintah dengan rumah sakit swasta. Seorang dokter spesialis di RS pemerintah rata-rata hanya mendapatkan Rp10 juta per bulan dan ini sudah termasuk gaji pokok, insentif, dan jasa kunjungan pasien. Berbeda dengan dokter spesialis di RS swasta yang bisa mencapai minimal Rp50 juta per bulannya.

5. Ahli Pertambangan

Hampir sama dengan para ahli perminyakan, profesi ahli pertambangan juga menjanjikan gaji selangit bagi para pegawainya. Ahli geologi yang bekerja di lokasi pertambangan bisa memiliki gaji sebesar Rp30 juta per bulan. Hal ini wajar karena untuk menjadi seorang ahli geologi yang cakap di bidangnya dibutuhkan pendidikan dan pengalaman yang cukup lama.

6. Ahli Teknik Informatika

Dengan semakin majunya perkembangan teknologi di Indonesia maka semakin akan semakin dibutuhkan tenaga ahli yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Rata-rata gaji seorang software engineer dan system administrator di Indonesia adalah Rp15 juta per bulan dan dengan pengalaman kerja lebih dari 2 tahun.

7. Manager Pemasaran

Menjadi seorang manajer pemasaran merupakan sebuah profesi yang vital, kenapa? Karena manajer pemasaran bertanggung jawab untuk mengelola sistem pemasaran meliputi strategi dan analisis pasar. Untuk itu berdasarkan survei dari Kelly Services, rata-rata seorang manajer pemasaran mendapatkan gaji sebesar Rp60 juta per bulan.

8. Anggota DPR

Di Indonesia, gaji anggota DPR bisa dibilang relatif tinggi, bahkan mendapat peringkat ke-4 terbesar di dunia. Seorang anggota DPR memiliki gaji pokok sebesar Rp15 juta yang kemudian masih ditambah berbagai mencapai tunjangan sehingga total gaji mereka bisa mencapai Rp46 juta per bulan atau Rp554 juta per tahunnya. Sebuah nilai yang sangat fantastis untuk orang-orang yang hanya duduk mewakili suara rakyat Indonesia.

9. Ahli Konstruksi

Tenaga ahli konstruksi juga menjanjikan gaji yang tinggi. Untuk propinsi DKI Jakarta saja, berdasarkan surat edaran Menteri Pekerjaan Umum Indonesia pada bulan Maret 2013, ahli konstruksi dengan pendidikan S1 (fresh graduate) tanpa pengalaman bisa mendapat gaji sebesar Rp20 juta, sedangkan untuk ahli konstruksi dengan latar belakang pendidikan S3 yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun bisa mencapai lebih dari Rp60 juta per bulan.

10. Chief Executive Officer

Ini merupakan jabatan tertinggi dalam struktur pejabat korporat (eksekutif) dan posisi ini umumnya ditunjuk oleh dewan direksi sebuah perusahaan. Rata-rata seorang CEO di Indonesia bisa mendapat gaji sebesar Rp1 milyar per tahunnya. Ini pun termasuk yang paling kecil jika dibandingkan dengan CEO dari perusahaan asing.

Nah .. gimana gais ?

Kira-kira kamu memiliki kualifikasi nggak untuk mendapatkan perkerjaan-perkerjaan tersebut diatas ?

Kalo enggak, jangan merasa hampa dan putus asa ya gais.

Yuk, syukuri perkerjaan yang kita miliki sekarang karena pada dasarnya semua perkerjaan yang halal itu baik. Besar atau kecil jumlah gaji yang kamu dapat dari perkerjaan sekarang harus disyukuri karena perkerjaan itulah yang udah menafkahi kamu.

Lagi pula menurut aku nih ya, jumlah itu adalah relatif, tergantung bagaimana kita memaknainya. Karena ada orang dengan gaji 1 juta merasa cukup, akan tetapi ada orang dengan gaji 5 juta masih merasa kurang. Jadi semua itu tergantung gaya hidup yang kita jalankan.

Alahkah bijaknya, jika kamu menginginkan perkerjaan dengan bayaran yang lebih, maka tingkatkan dulu kualitas diri kamu. Agar diri kamu cukup pantas untuk bersaing mendapatkan perkerjaan tersebut.

Okkeh, gais ?

Sip.

Semoga bermanfaat ya.. Sampai jumpa di postingan berikutnya.


Tuesday, September 30, 2014

Ambang Batas Maksimal

Hidup yang bermakna sejatinya memiliki target-target yang harus dicapai. Tanpa itu semua kehidupan yang dijalani akan terasa hambar. Karena tanpa ada target tertentu yang ingin dicapai maka akan sulit menilai kadar kesuksesan yang diraih. Bagaimana kita bisa menilai diri kita sukses atau berhasil jika kita tidak memiliki patokan target kesuksesan tersebut.

Misalkan saja pada diri seorang pemuda lajang, dia akan dikategorikan sukses jika telah menikah. Tentu saja sukses yang dimaksud disini adalah sukses menemukan pasangan hidupnya. Begitu juga seorang karyawan akan dikatakan sukses jika mencapai atau melebihi standar yang diberikan oleh perusahaan.

Nah dalam usaha pemenuhan target tersebut tentulah dibutuhkan langkah-langkah jitu yang ditopang oleh perencanaan dan strategi yang matang. Atau mungkin lebih tepatnya lagi adalah upaya yang maksimal. Apakah upaya yang maksimal itu ? Seperti apa bentuknya ? Dan adakah limit atau ambang batas maksimal itu ?

Sebagai seorang karyawan saya merasakan betul betapa susahnya dalam mencapai target yang diberikan perusahaan. Bahkan terkadang timbul perasaan putus asa dan nyaris membuat saya menyerah. Bila sudah begitu, saya lantas dengan mudahnya menganggap 'bos' saya sudah 'gila' karena memberi saya target yang menurut saya 'tidak masuk akal'. Namun benarkah demikian ? Apakah target 100% itu adalah 'gila' dan 'tidak masuk akal' ? Benarkah angka 1M itu 'gila' dan 'tidak masuk akal' ? jika semua target itu harus dicapai dalam satu hari, itu baru pas disebut gila. Tetapi untuk mencapai itu semua, kita diberikan waktu selama 30 hari dalam sebulan. Jadi ada tempo waktu untuk kita berfikir, menyusun rencana dan menerapkan strategi-strategi yang jitu guna mencapai target tersebut. Sekarang yang menjadi persoalannya adalah seberapa besar usaha kita dalam berfikir dan menyusun rencana itu. Seberapa kuat strategi yang kita punya untuk mencapai target tersebut. Bukankah untuk memperoleh sesuatu yang berharga itu dibutuhkan pengorbanan ? Lantas seberapa besar pengorbanan yang telah kita berikan ?

Pernah suatu waktu, saya berbincang-bincang dengan rekan kerja tentang produktifitas yang telah dicapainya. Saat itu saya sampaikan kepada dia bahwa performa dia menurun dibandingkan bulan lalu. Ketika bulan lalu pada tanggal sekarang telah mencapai angka 75% dari targetnya, sementara pada bulan ini dia baru mencapai 60%. Jadi ada 15% yang hilang pada bulan ini. Ketika saya tanya mengapa bisa begitu ? Apa yang salah pada bulan ini ? Bukankah pangsa pasar yang digarap adalah sama ? Bukankah wilayah juga sama ? Lalu dimana kurangnya  sehingga bisa berbeda jauh begitu ? Kemudian dia menjawab, karena sekarang musim hujan, makanya aktifitas jadi terganggu. Dengan mudahnya dia menjadikan faktor alam sebagai alasan atas kegagalannya.

Dalam mencari kambing hitam atas sebuah kegagalan, faktor alam memang selalu menjadi yang nomor satu dikemukakan. Namun jika kita berfikir lebih bijak, seharusnya faktor alam seperti itu bukanlah menjadi alasan atas kegagalan kita. Seharusnya yang menjadi alasan adalah kesiapan kita dalam menghadapi alam tersebut. Misalnya masalah hujan tadi, mengapa kita tidak mengenakan mantel hujan ? Bukankah teknologi sudah sedemikian maju menciptakan beraneka ragam bentuk mantel hujan sehingga orang-orang tetap bisa beraktiftas meskipun hari hujan. Jadi kembali lagi itu hanyalah sebuah bentuk alasan semata.

Nah.. dari semua itu diatas, berhasil atau tidaknya kita dalam mencapai target yang diberikan adalah tergantung kita sendiri. Kitalah yang menentukan ambang batas maksimal usaha yang kita lakukan. Jika dengan sekedar 'telah melakukan' dianggap sebagai upaya maksimal, maka jangan pernah mengkambing hitamkan pihak lain atas kegagalan kita. Namun jika semua kemampuan telah dikerahkan, rencana telah disusun rapi, dan action pun telah dijalankan sesuai rencana, jika hasilyang dicapai masih belum memuaskan maka kita tidak perlu berkecil hati. Tetaplah berbesar hati dengan selalu menghargai diri kita sepantasnya. Tidak perlu terpuruk dan larut dalam kekecewaan. Yang harus kita lakukan adalah tetap optimis untuk target-target berikutnya. Lakukan perencanaan ulang, temukan strategi baru dan actionkan tanpa ragu. Lakukan terus dengan penuh konsistensi, maka yakinlah sukses itu telah menunggu kita disuatu waktu.

Salam Sukses untuk Kita Semua

Saturday, September 27, 2014

5 Cara Agar Hubungan Jarak Jauh Tetap Awet dan Harmonis

LDRKetika dihadapkan pada permasalahan menjalin kasih dalam hubungan jarak jauh (LDR - Long Distance Relationship) tidak sedikit orang-orang berpandangan negatif. Kemajuan teknologi zaman sekarang pun tidak mampu memberi jaminan kelanggengan hubungan jarak jauh ini karena alasan perbedaan jarak selalu menjadi momok nomor satu yang menggagalkan jalinan kasih pasangan LDR ini.

Namun benarkah jarak adalah satu-satunya permasalahan terbesar dalam menjalin hubungan kasih ? Bukankah mereka yang menjalin kasih dengan tetangga sendiri juga bisa putus ?

Jadi buat kamu-kamu yang akan dan sedang menjalani hubungan jarak jauh, agar jalinan kasih tetap awet dan harmonis, tidak ada salahnya mencoba cara-cara berikut ini :

1. Kepercayaan
Ibarat membangun sebuah rumah, dibutuhkan pondasi yang kuat dan kokoh, sama halnya dengan menjalin hubungan, juga dibutuhkan kepercayaan sebagai pondasinya. Sebuah hubungan yang didasari kepercayaan, tidak akan rapuh oleh jarak dan waktu.

2. Komitmen
“Jangan pernah berjanji, jika tidak dapat menepatinya”. Yah… Komitmen itu bukan hanya kata-kata belaka, tetapi harus diiringi dengan tindakan, siap menerima segala konsekuensi di depan mata, baik dalam keadaan terhimpit dan menyesakkan dada.

3. Komunikasi yang Intens
Komunikasi tidak dapat dielakkan dalam sebuah hubungan. Bangunlah komunikasi yang intens dengan pasangan, karena dengan demikian bisa mengobati rasa sepi dan rindu yang pasti telah membuncah didada. Beruntunglah karena kita hidup di zaman yang sudah canggih, dengan adanya sarana komunikasi via telepon atau handphone seakan mempersempit jarak yang ada. Buatlah pembicaraan tidak hanya sekedar sapaan, ciptakan suasana segar dengan berbagi joke dan hal-hal menarik yang terjadi dan usahakan terjadi komunikasi dua arah.

4.Ketetapan hati atau Kesetiaan

Kesetiaan adalah kunci untuk sebuah hubungan bisa bertahan. Tidak peduli itu hubungan jarak jauh atau bukan, masalah kesetiaan ini tetap yang paling krusial. Namun untuk hubungan jarak jauh, masalah kesetiaan ini memang sedikit lebih mendapatkan perhatian karena dengan kurangnya kebersamaan dengan pasangan telah menimbulkan rasa sepi dan kosong di hati pasangan LDR. Maka jika tidak memiliki ketetapan hati yang kuat kehadiran pihak ketiga memang sangat mudah mempengaruhi keutuhan hubungan jarak kauh. Tidak jarang karena masalah ini memicu pertengkaran - dan perang dingin - yang akhirnya berbuntut pada perpisahan.

5.Kurangi khawatir berlebihan
Khawatir adalah akar dari rasa cemburu yang memang perlu dijaga namun tetap dalam porsinya. Rasa khawatir dan cemburu yang berlebih justru bisa membahayakan hubungan jarak jauh. Hal ini terjadi karena jika salah satu pihak memiliki rasa khawatir dan cemburu yang berlebihan akan membuat pihak yang lain merasa terkekang dan merasa tidak dipercayai. Maka kembali ke poin awal tadi yaitu Kepercayaan. Selalu berpikir positif adalah salah satu kunci sukses menjaga hubungan jarak jauh. Jangan menjadi pribadi yang over protective, over sensitive dan over reacting. Biarkan dia bergaul dengan teman-temannya dan jangan membiarkan rasa curiga berlebihan merasuki diri kamu. Seperti kata pepatah “Semakin dikejar, semakin menjauh”.

Nah.. bagaimana ? Cukup simple bukan ?

Jadi pada dasarnya jarak bukanlah masalahnya, tapi bagaimana cara menjalaninya itulah yang penting.

Mengenali Bakat Anak Sejak Dini

Beberapa pengertian bakat:



  • Bakat merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang sebagai bawaan sejak lahir

  • Bakat adalah suatu bentuk kemampuan khusus, yang memungkinkan seseorang memperoleh keuntungan dari hasil pelatihannya sampai satu tingkat lebih tinggi

  • Bakat merupakan potensi dan bukan sesuatu yang sudah benar-benar nyata dengan jelas. Bakat lebih sebagai kemungkinan yang masih harus diwujudkan

  • Bakat merupakan suatu karakteristik unik individu yang membuatnya mampu melakukan suatu aktivitas dan tugas secara mudah dan sukses

A. CARA MENGENAL BAKAT



  • Melalui pengalaman: Ketika mencoba hal tertentu, ternyata mengalami banyak kemajuan.

  • Mengikuti test bakat, yang sekarang tersedia beberapa test kemampuan / kecerdasan.

  • Memadukan antara pengalaman dan test bakat, kadang hasilnya lebih meyakinkan.

B. KECERDASAN SEBAGAI BAKAT

Ruang lingkup kecerdasan

Kecerdasan dapat dilihat sebagai bakat yang memungkinkan seseorang menguasai kemampuan tertentu atas aneka macam ketrampilan. Kecerdasan sebenarnya merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu. Sesungguhnya, Anda jauh lebih cerdas dari yang Anda sadari. Setiap manusia normal dapat mengembangkan ketujuh jenis kemampuan kecerdasan sampai kepada tingkat penguasaan tertentu

7 Jenis kecerdasan

Ada tujuh jenis kecerdasan, antara lain:
1. Kecerdasan Linguistik: Kecerdasan dalam mengolah kata
Ciri anak dengan kecerdasan ini:
Mampu beragumentasi; meyakinkan orang; menghibur; mengajar dengan efektif lewat kata-kata; senang dengan bunyi bahasa dan teka-teki kata, mempermainkan kata dan tongue twister (pembelit lidah); mahir dalam hal-hal kecil dan mampu mengingat berbagai fakta; gemar sekali membaca; dapat menulis dengan jelas; dapat mengartikan bahasa tulisan secara luas.
Kecerdasan ini harus di miliki:
Jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara. Bisa jadi mereka adalah ahli sastra. (Shakespeare, Homeros, dsb.).

2. Kecerdasan Logis-Matematis: Kecerdasan dalam hal angka dan logika
Cirinya:
Kemampuan dalam penalaran, mengurutkan, berpikir dalam pola sebab-akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional.
Profesi:
Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan pemprogram komputer. (Newton, Einstein, dsb.)

3. Kecerdasan Spasial: Kecerdasan berpikir dalam gambar, mencerap, mengubah, dan menciptakan kembali berbagai aspek dunia visual spasial.
Cirinya:
Mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi.
Profesi:
Para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. (Thomas Edison, Pablo Picasso, Ansel Adams, dsb.).

4. Kecerdasan Musikal: Kecerdasan dan kemampuan untuk menyerap, menghargai, dan menciptakan irama dan melodi.
Ciri anak ini:
Memiliki kepekaan terhadap nada, dapat menyanyikan lagu dengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dapat mendengarkan (menikmati) berbagai karya musik dengan tingkat ketajaman tertentu.
Profesi yang sesuai:
Ini merupakan kecerdasan para komponis, pemain musik, penyanyi, pemimpin orkestra atau berbagai group musik. (Bach, Beethoven, dsb.).

5. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani: Merupakan kecerdasan fisik.
Cirinya:
Bakat dalam mengendalikan gerak tubuh, dan keterampilan dalam menangani benda; cekatan; indra perabanya sangat peka; tidak bisa tinggal diam, dan berminat atas segala sesuatu.
Profesi:
Memiliki keterampilan dalam menjahit, bertukang, merakit model. Dapat menikmati kegiatan fisik seperti: berjalan kaki, menari, berlari, berkemah, berenang, atau kegiatan fisik lainnya.
Ini adalah keterampilan para atlet, pengrajin, montir, ahli bedah, dsb.

6. Kecerdasan Antarpribadi: Kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain.
Cirinya:
Kemampuan untuk menyerap dan tanggap terhadap suasana hati, perangai, niat dan hasrat orang lain.
Mempunyai rasa belaskasihan dan tanggungjawab sosial yang tinggi; dapat melihat dunia dari sudut pandang orang lain.
Profesinya:
Ini adalah kecerdasan seorang pemimpin kegiatan sosial, pemimpin perusahaan, seorang networker, perunding dan guru yang ulung. (Mahatma Gandhi = berbelaskasih; Machiavelli = manipulatif dan licik).

7. Kecerdasan Intrapribadi: Kecerdasan dalam diri sendiri Kemampuan mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai keadaan emosi, menggunakan pemahamannya sendiri untuk memperkaya dan membimbing hidupnya.
Cirinya:
Mereka sangat mawas diri dan suka bermeditasi,
berkontemplasi, atau bentuk lain penelusuran jiwa yang mendalam. Mereka sangat mandiri, fokus pada tujuan, sangat disiplin. Mereka gemar belajar sendiri, lebih suka bekerja sendiri dari pada bekerjasama dengan orang lain.
Profesi yang cocok:
Ini adalah kecerdasan para konselor, ahli teologi, wirausahawan, dsb.

C. HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI BAKAT

Pengaruh unsur genetik, khususnya yang berkaitan dengan fungsi otak bila dominan otak sebelah kiri , bakatnya sangat berhubungan dengan masalah verbal, intelektual, teratur, dan logis dan bila dominan dengan otak kanan berhubungan dengan masalah spasial, non verbal, estetik, artistik serta atletis
Karena latihan, Bakat adalah sesuatu yang sudah dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan untuk membangkitkan dan mengembangkannya.
Struktur tubuh mempengaruhi bakat seseorang. Seorang yang bertubuh atletis akan memudahkannya menggeluti bidang olah raga atletik.

D. MANFAAT MENGENAL BAKAT ANAK SEJAK DINI
1. Untuk mengetahui potensi diri: Dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita jadi tahu potensi anak dan bisa dikembangkan.
2. Untuk merencanakan masa depan: Dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita bisa merencanakan mengembangkannya dengan demikian juga turut merencanakan masa depan.
3. Untuk menentukan tugas atau kegiatan: Dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita bisa memilih kegiatan apa yang akan kita lakukan sesuai dengan bakat yang kita miliki

E. CARA MENGEMBANGKAN BAKAT
1. Perlu keberanian : berani memulai, berani gagal, berani berkorban (perasaan, waktu, tenaga, pikiran, dsb), berani bertarung. Keberanian akan membuat kita melihat jalan keluar berhadapan dengan berbagai kendala
2. Perlu didukung latihan : bakat perlu selalu diasah, latihan adalah kunci keberhasilan
3. Perlu didukung lingkungan : lingkungan disini termasuk manusia, fasilitas, biaya, dan kondisi sosial yang turut berperan dalam usaha pengembangan bakat
4. Perlu memahami hambatan dan mengatasinya : maksudnya disini perlu mengidentifikasi dengan baik kendala-kendala yang ada, kemudian dicari jalan keluar untuk mengatasinya

Semoga bermanfaat..





Dari berbagai sumber

Thursday, September 25, 2014

Bangkit dari Kegagalan

ViralGen Referral Shopping

Untuk mencapai sebuah kesuksesan tidaklah mudah. Dibutuhkan kerja keras dan mental yang kuat untuk mewujudkannya. Mengapa dibutuhkan mental yang kuat ? Karena kesuksesan itu sendiri adalah sebuah hasil dari proses yang panjang yang didalamnya selalu ada kegagalan. Kalau orang-orang dulu bilang, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Terdengar seperti sebuah kalimat yang menghibur agar mereka yang mengalami kegagalan tidak lantas menjadi putus asa.

Apapun bentuknya, yang namanya kegagalan itu rasanya pasti sakit. Namun bagi mereka yang bermental kerupuk alias pecundang, akan menjadikan kegagalannya sebagai sebuah alasan atau kambing hitam baginya untuk tidak lagi berusaha. Dia akan menghindar dan tidak mau lagi melanjutkan apa yang telah dimulainya.

Sangat berbeda dengan mereka yang memiliki mental baja yang  menganggap kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Justru kegagalan dianggapnya sebagai sebuah awal baru untuk melangkah lebih baik karena dengan adanya kegagalan dia telah mendapatkan ilmu dan pelajaran yang berharga. Dengan demikian dia bukan down atau terpuruk dalam kegagalannya, tapi justru menjadikan kegagalan tersebut sebagai satu batu loncatan untuk mencapai kesuksesan yang diimpikan.

Berdasarkan pengalaman pribadi yang saya alami, saya menerapkan poin-poin berikut ini untuk bangkit dari kegagalan.

1. Terima Kenyataan

Kebanyakan orang malu dan tidak bisa menerima kegagalan. Dia tidak mengakui bahwa dirinya telah gagal. Hal ini tidak baik, karena hanya akan memperburuk keadaan, karena dengan terus-menerus tidak mengakui kegagalan berarti sama saja dengan membohongi diri sendiri. Tidak perlu mencari kambing hitam atas kegagalan yang telah terjadi, yang perlu dilakukan adalah terima kenyataan. Dan segera instrospeksi diri untuk mencari kesalahan diri, agar kedepannya kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Langkah selanjutnya adalah kembali menyusun rencana-rencana baru dengan terus membuka diri dengan jiwa besar untuk meneriman masukan dan kritikan dari orang lain.

2. Kembali Ke Titik Nol

Titik Nol adalah titik awal untuk kita melangkah. Pada titik ini kita dipenuhi oleh semangat yang tinggi dan ide-ide segar yang menuntut untuk segera diwujudkan. Dari pada hanya diam dan meratapi kegagalan yang telah lalu, maka lebih baik tenaga dan pikiran yang ada dikerahkan untuk mewujudkan ide-ide tersebut dengan rasa semangat dan keyakinan yang tinggi bahwa tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai tanpa langkah awal. Sekecil apapun langkah yang dibuat adalah lebih baik dari pada duduk dan diam tanpa berbuat apa-apa.

3. Mengintip Keberhasilan

Tidak ada salahnya jika sekali-kali kita membayangkan keberhasilan dan kesuksesan yang akan kita capai jika semua ide dan rencana yang telah disusun berjalan dengan baik. Bayangkan berapa banyak orang-orang yang bisa kita mudahkan jika kita berhasil. Bayangkan senyum lebar dan air mata haru dari orang-orang terkasih yang akan bangga dengan keberhasilan kita. Simpan semua bayangan tersebut di hati dan pikiran kita, agar bisa memberikan sugesti positif untuk kita agar tidak berputus asa dalam menjalankan semua proses dan tahap menuju impian. Karena semua keberhasilan kita kelak bukanlah untuk dinikmati sendiri, namun untuk membahagiakan orang banyak.

4. Selalu bersyukur

Terkadang kegagalan yang menimpa kita membuat kita terpuruk dan merasa sebagai manusia paling malang sedunia. Kita merasa Tuhan tidak adil dan kita merasa iri dengan kesuksesan orang lain. Buanglah jauh-jauh perasaan semua itu ! Lebih baik lihat disekitar kita berapa banyak orang-orang yang hidupnya jauh lebih kurang dari kita. Namun mereka tidak menyerah berjuang untuk hidup padahal mereka tidak memiliki modal yang lebih dari pada kita. Kita memang belum sukses, tapi modal untuk sukses itu kita telah miliki yaitu pengalaman, kemampuan dan kemauan untuk kembali bangkit. Jadi dari pada menghujat Tuhan dan iri akan kesuksesan orang lain, lebih baik mensyukuri apa yang telah dan masih dimiliki saat ini.

5. Buat daftar Kesuksesan

Buat daftar kesuksesan diri sendiri, sekecil apapun itu tulislah dan jadikan acuan hidup kita. Mulailah dari yang terkecil hingga yang terbesar. Jangan merasa malu akan impian-impian yang kecil, karena impian yang besar akan sulit terwujud jika impian kita yang kecil belum terwujud. Bukankah semakin besar impian, maka usaha yang dilakukan juga semakin besar ? Jika takaran usaha yang dilakukan adalah selalu standar maka jangan pernah bermimpi kesuksesan yang besar akan datang menghampiri.

6. Terima masukan dari orang lain

Masukan dari orang lain itu datang dalam berbagai bentuk. Ada yang bentuknya negatif adapula yang positif. Untuk masukan yang bentuknya positif tidak perlu diragukan lagi, karena sebagai manusia kita memiliki kecendrungan untuk selalu terbuka untuk masukan-masukan yang bentuknya positif. Namun ada kalanya masukan dari orang lain ini bentuknya negatif seperti ejekan, sindiran dan bahkan cacian. Nah sekarang tergantung kepada kita, apakah akan berkecil hati ketika mereka mengejek apa yang kita lakukan ? atau justru membuat kita melakukan instrospeksi diri dan melakukan pengecekan ulang atas apa yang kita lakukan. Jika telah melakukan pemeriksaan menyeluruh, kita tidak menemukan hal-hal yang mereka ejekkan, just forget it ! anggap mereka iri dengan usaha kesuksesan yang tengah kita raih.

7. Alihkan kesedihan untuk melakukan kegiatan yang positif

Ketika kita mengalami kegagalan, sudah pasti kita merasakan sakit dan sedih yang mendalam. Kita menjadi murung dan tidak semangat melakukan apapun. Namun sadarkah kita bahwa semua itu sia-sia ? Apakah dengan kita bermuram durja kegagalan itu akan pergi ? Apakah dengan berdiam diri dan mengurung diri dikamar itu membuat kesuksesan itu datang ? Jawabannya adalah tidak. Yakin dan percayalah kesuksesan itu hanya untuk mereka yang terus melangkah dan memperbaiki diri. Nah dari pada pasang wajah bertekuk dan cemberut, lebih baik tersenyum dan langkahkah kaki untuk melakukan hal-hal yang positif. Misalnya bersihkan rumah, pergi piknik dengan orangtua, berkunjung ke panti jompo, dan lain-lain. Buatlah orang lain tersenyum. Semakin banyak orang yang kita bahagiakan, maka semakin cepat kita bisa bangkit dari kegagalan.

Wednesday, September 24, 2014

Warung Sadaqah



Pernah mendengar atau membaca tentang Suspended Coffee (Kopi yang ditangguhkan) ? Jika belum, sedikit saya ulas disini. Di sebuah kota di Italia, ada sebuah kedai kopi yang cukup terkenal. Jadi seperti kedai kopi pada umumnya, orang-orang ramai mengantri di depan bar dan juga kasir yang bersebelahan. Hingga kemudian datang dua orang pemuda memesan 5 cangkir kopi. Ketika membayar dikasir, mereka berkata "Dua cangkir kopi untuk kami, tiga ditangguhkan". Kemudian mereka membayar seharga 5 cangkir kopi dan membawa dua saja. Hal yang sama dilakukan oleh pengunjung-pengunjung berikutnya, yang juga memesan dan membayar kopi mereka namun tidak membawa semua pesanan mereka, selalu ada 1 atau lebih yang ditangguhkan. Tidak berapa lama kemudian, datanglah seorang pria yang berpakaian lusuh dan bertanya kepada barista "apakah anda memiliki kopi yang ditangguhkan ?"
Inilah sepenggal cerita yang di tulis oleh John Sweeney diakun Facebooknya, yang kemudian menginspirasi banyak orang diberbagai negara. Suspended Coffee adalah program yang menawarkan pelanggan untuk membayar beberapa cangkir kopi yang ditangguhkan atau ditunda. Kopi tersebut nantinya akan diberikan kepada mereka yang menginginkan kopi, namun tak mampu membayar.Prosesnya sederhana. Pelanggan dapat membeli kopi untuk diri sendiri, ditambah satu atau dua cangkir tambahan untuk orang yang mungkin membutuhkan. Kopi yang sudah dibayar, disimpan oleh barista, lalu ditawarkan kepada mereka yang membutuhkan. Dalam program ini, para pendonor dan penerima kopi tidak saling kenal.

Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Tidak banyak yang tahu mungkin, namun sebenarnya di Indonesia telah ada Warung Sadaqah yang menyediakan makanan dan minuman khusus untuk fakir miskin dan kaum duafa. Bila Anda tidak punya uang untuk makan, silakan mampir ke warung tersebut. Ajak siapa saja yg butuh makan, tetapi terkendala uang. Silakan pesan menu apa saja yg Anda mau, dan tersedia di situ. Tak akan dimintai bayaran sepeserpun. Misalkan Anda punya uang seribu atau duaribu dan berniat membayar, silakan masukkan uangnya ke tempat yang disediakan.
Warung SadaqahWarung ini buka setiap hari mulai jam 06.00-09.00. Lokasinya di alun-alun Kota Pekalongan. Menu masakannya cukup beragam, ada ayam opor, nasi megono, telur bacem, telur ceplok, sampai daging rendang. Setiap hari, banyak saudara kita yang berprofesi jadi tukang becak, kuli panggul, pengemis, dan sebagainya makan di situ.

Warung ini dibuka dan dibiayai oleh seorang yang hanya ingin dikenal dengan sebutan 'Hamba Allah'. Tujuannya, untuk membantu orang yang kekurangan. Ia ingin agar rakyat kecil bisa ikut menikmati makanan murah bahkan gratis di kawasan alun2 yang merupakan tempat favoritnya semasa kecil dulu.



Semoga menginspirasi Anda untuk selalu berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

Friday, September 19, 2014

Etika berbahasa di tempat kerja

Saya tuh orangnya simple. Tidak begitu suka dengan suasana yang kaku dan formal. Santai lebih asyik. Namun ada satu kejadian yang membuat saya tergelitik.

Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, saya beraktifitas seperti biasanya. Ditengah-tengah kesibukan kerja, agar suasana kerja tidak monoton, terkadang saya dan rekan-rekan kerja yang satu ruangan bersenda gurau satu sama lain. Jadi pernah satu waktu, ketika itu saya dideadline oleh atasan untuk menelusuri masalah yang terjadi pada salah satu anggota tim kami. Jadi agar saya mendapatkan data yang akurat tentulah saya harus menghubungi pihak-pihak terkait agar cerita dan data yang saya dapat berimbang. Jadi siang itu mereka-mereka yang terkait ini saya hubungi satu-persatu. Dari 3 pihak yang saya hubungi, 2 diantaranya telah memberikan jawaban yang menurut saya "memuaskan", karena mereka memberikan kronologis kejadian itu dengan jelas dan rinci. Yang membuat saya sedikit sensi adalah orang yang ketiga ini. Entah karena masih terbawa suasana gurauan tadi pagi, atau karena faktor lain, beliau ini memberikan jawaban yang membuat saya sangat gerah. Padahal saya sudah berkali-kali mengingatkan dia bahwa saya serius, jadi tolong jangan bercanda lagi. Saya katain begitu eh balik dia yang jutek kepada saya. Karena kesal tidak mendapat tanggapan saya lalu bilang, "ya sudahlah, kalo kamu tidak bisa memberikan informasi yang saya minta, untuk selanjutnya urusan ini saya serahkan ke HRD saja", lalu saya tutup teleponnya. Namun beberapa saat sebelum sambungan telepon saya tutup, dari seberang saya mendengar dia mengucapkan kata-kata yang sangat tidak pantas dan kotor ditelinga saya.

Compare hotel prices and find the best deal - hotelscombined.com

Wahhh.. saya betul-betul meradang kali ini dibuatnya. Langsung saja saya kirimi dia SMS "tolong ucapan anda dijaga ya, karena kalau bukan karena urusan perkerjaan saya tidak akan menghubungi anda. Dan satu lagi, saya masih atasan anda, yang berhak melakukan evaluasi atas kinerja anda !". Dia tidak membalas pesan saya lagi. Dan saya cukup bersyukur atas itu. Karena bagaimanapun saya juga tidak menginginkan konflik terbuka dengan rekan-rekan kerja saya.

Dari kejadian tersebut saya mendapat pelajaran yang cukup berarti. Bahwa ternyata perlu juga menjaga sedikit jarak antara atasan dan bawahan, agar mereka tetap respect dan menghargai atasannya. Sebagai atasan sebenarnya saya bukan tipikal orang yang gila hormat dan ingin ditakuti bawahan. Tapi sebaliknya, saya ingin menciptakan keakraban dan kenyamanan dalam berkerja sama. Namun ternyata, tidak semua orang bisa menerima perlakuan ramah kita sebagai bentuk penerimaan terhadap dia. Sebagian mereka menganggap keramahan kita sebagai bentuk sinyal bahwa kita 'murah'. Itu yang saya tidak bisa terima.

Jadi agar kenyamanan dalam berkerja bisa tercipta, masing-masing individu semestinya bisa mengontrol diri dan mengetahui manajemen waktu yang tepat. Harus bisa membedakan antara perkerjaan dan pertemanan. Mungkin diluar kantor seseorang itu adalah teman. Namun untuk urusan perkerjaan dikantor antara atasan dan bawahan itu tetap tidak sama. Harus tetap saling menjaga kesopanan dan etika dalam berbahasa satu sama lainnya.
ViralGen Referral Shopping

Thursday, September 18, 2014

Kejujuran yang Berharga

Adalah siang itu setelah menyelesaikan urusan di bank, saya menunggu angkot di pertigaan jalan menuju kantor. Cukup lama saya menunggu, sampai angkot yang saya tunggu-tunggu pun datang. Ketika saya naik, didalam telah ada dua orang penumpang. Satu kakek-kakek dan cucunya yang berumur sekitar 7-8 tahun. Kalau dilihat dari penampilan mereka saya meyakini mereka itu (maaf) pengemis.

Angkot berjalan pelan, karena siang-siang begini memang penumpang sepi. Orang-orang memilih berdiam diri dirumah, dari pada harus berperang dengan terik matahari yang menyengat. Untuk menghilangkan jenuh, iseng-iseng saya mengeluarkan telepon genggam dari tas saya. Dari main game, facebook-an, bbm-an dan buka-buka galeri foto anak saya lakukan. Tanpa saya sadari, kantor tujuan saya terlewat. Dan sontak saya berteriak agar supir menghentikan laju angkotnya. Setelah membayar ongkos, saya pun bergegas turun. Cukup jauh juga saya berjalan kaki menuju kantor saya yang terlewat tadi.

Jalanan yang ramai membuat saya tidak bisa segera menyebrang jalan. Ditambah lagi mobil-mobil besar seperti truk, fuso dan teman-temannya itu yang berjalan seperti balapan. Hati saya semakin ciut untuk menyebrang. Diantara suara deru kendaraan sayup-sayup saya mendengar suara anak-anak yang memanggil-manggil "KAK !" berulang kali. Saya pun menoleh mencari sumber suara itu. Dari kejauhan saya melihat anak yang tadi bersama saya di angkot berlari kearah saya. Anak tadi ? ada apa ya ? batin saya bertanya-tanya. Beberapa saat kemudian anak itu sampai dihadapan saya, dengan nafas ngos-ngosan dan keringat bercucuran di kepalanya. Aduh kasihannya anak ini, hati kecilku membatin.

"ada apa dek ?" tanyaku pelan. Karena masih ngos-ngosan anak itu tidak langsung menjawab. Hanya tangan kecilnya yang terulur ke arah saya. Saya bingung, namun saya sambut uluran tangannya itu. Dan mendapati selembar uang Rp20.000 dari tangannya.
"uang kakak yang jatuh diangkot tadi" katanya dengan nafas masih belum teratur. Hati saya terenyuh, dan kaki saya pun mendadak terasa lemas.
"Ya Tuhan, jadi kamu berlari sejauh itu untuk mengembalikan uang kakak ? Mengapa kamu tidak ambil saja ?"
Dia menggeleng, "Atuk saya marah, dia bilang itu bukan duit kita, kalau diambil sama dengan mencuri"
Tanpa saya sadari mata saya jadi berkaca-kaca terharu melihat kejujuran dari kaum papa dihadapan saya.
"sekarang atuk kamu dimana? Kenapa kamu sendirian ?"
"Atuk saya disana, dia saya suruh tunggu dekat kedai. Dia tidak sanggup lari kejar kakak tadi" jawabnya polos sambil menunjuk kearah kedai sekitar 100 meter dari saya berdiri. Saya pun bangkit berdiri, dan kemudian tanpa ragu melangkahkan kaki ketempat kakek anak itu berada.

Sesampai disana alangkah kagetnya saya, ternyata kakek itu buta. Dia tidak bisa melihat sama sekali. Namun instingnya yang begitu tajam mengenali keberadaan cucunya di yang tak jauh darinya.
"Aa.. gimana, dah kau kembalikan duit orang tadi ?" tanyanya dengan suara serak. Cucunya belum sempat menjawab, saya langsung potong mendahuluinya.
"Udah kek, terimakasih banyak. Tapi mengapa tak diambil saja kek? Anggap saja rezeki dari Allah". Dia menggeleng "itu bukan hak kita, hak orang lain. Saya tidak mau memakan hak orang lain" katanya dengan suara tegas.
Salut ! Sungguh saya salut dengan prinsip kakek ini. Meskipun dalam keadaan serba kekurangan, dia tetap memelihara sifat jujur dalam dirinya. Dan itu pun dia ajarkan kepada cucunya.

"Sebenarnya kakek sama cucu ini mau kemana ?" tanya saya pula kemudian
"Tadi dari rumah, nak ke pasar menjual sayur" jawabnya pelan. Saya langsung beristighfar dalam hati, memohon ampun karena telah salah menduga kalau kakek itu pengemis.
"Oo.. sekarang mana sayurnya kek ?"
Dia tertawa, menampakkan giginya yang tinggal beberapa "Alhamdulillah udah dibeli orang tadi, jadi dah habis" Nada riang tersirat jelas di suaranya.
"Alhamdulillah ya Kek.. O ya Kek, ini dari saya untuk kakek dan cucu. Semoga bermanfaat" ucap saya, seraya menyelipkan sejumlah uang ketangannya. Namun alangkah terkejutnya saya, karena dengan cepat dia menepis tangannya.
"Saya bukan peminta-minta nak, saya masih bisa kerja dan memenuhi kebutuhan cucu saya" jelas dia sangat tersinggung dengan pemberian saya. Saya menjadi serba salah.
"BUkan begitu kek, saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan kakek. Saya cuma merasa berterimakasih dan bersyukur karena bertemu dengan kakek. Terimalah kek"
"Ndak ada yang istimewa dari saya. Kalau anak merasa berterimakasih dan bersyukur lakukanlah sama Allah, bukan sama saya" dia tetap kukuh untuk menolak pemberian saya.
"Baiklah kek, saya paham. Saya akan turuti nasehat kakek. Kalau begitu saya permisi ya kek" dan secepat kilat saya menyelipkan uang itu ke saku bajunya. Cucunya melihat perbuatan saya, namun karena saya memberi tanda dia menurut diam saja.

Hari ini saya mendapat pengalaman yang begitu berharga dalam perjalanan hidup saya. Pelajaran hidup dari orang-orang yang selama ini oleh saya tidak terperhatikan keberadaannya. MEmang tidak bisa menilai seseorang dari penampilan semata. Siapa yang menduga dari orang-orang seperti mereka, kejujuran itu nyata adanya.

Bagaimana dengan kita ??

Saturday, September 13, 2014

Menjadi Dewasa dengan Masalah

Bagaimana anda memandang masalah dalam hidup anda ? apakah sebagai hambatan ? atau justru sebagai tantangan ? Semua orang yang hidup pasti memiliki masalah. Beragam masalah hadir dalam kehidupan seseorang tanpa memandang usia, jabatan, agama dan golongan. Mereka yang lajang sering dihinggapi masalah pasangan. Yang mengganggur dilanda masalah keuangan. Yang sehat pun juga sekali-kali diberi masalah berupa penyakit. Jadi semua yang bernyawa memiliki masalah. Masalah yang dihadapi oleh setiap orang itu berbeda-beda tingkat kesulitannya. Ada yang ringan, berat dan rumit. Masalah yang ringan biasanya bisa diselesaikan oleh orang itu sendiri tanpa melibatkan orang lain. Namun tidak demikian halnya dengan masalah yang berat dan rumit. Dikehendaki atau tidak, untuk masalah yang jenis ini harus melibatkan orang lain guna penyelesaiannya.

Saya sendiri, saat ini telah berusia 33 tahun. Sejak usia 26 tahun saya telah berkali-kali mengalami masalah yang berat dalam hidup saya. Bahkan puncaknya, masalah tersebut nyaris membuat saya gelap mata untuk mengakhiri hidup saya sendiri, sebuah tindakan yang jika saya lakukan sudah sangat pasti mendapat kutukan dahsyat dari Sang Pencipta. Namun saya tersadar, ketika mendengar bisikan malaikat kecil di telinga saya. Ya .. panggilan dari anak tercintalah yang menggagalkan niat buruk saya. ASTAGHFIRULLAAH.. Sesaat saya tertegun, dan langsung beristighfar sebanyak-banyaknya. Saya memohon ampun pada Sang Khaliq atas semua dosa-dosa saya. Dan saya langsung bangkit dan menegaskan kembali pada diri saya "Yakinlah, semua masalah ini adalah cobaan dari Allah, yang pasti Allah Maha Tahu, bahwa saya mampu menghadapinya. Yakinlah, semua masalah ini adalah sebuah teguran kecil dari Allah atas kesombongan saya selama ini, karena DIA ingin saya lebih dekat kepadaNYA" Kata-kata tersebut diatas saya ulang-ulang setiap saat didalam hati.

Pernah juga beberapa tahun yang lalu, ketika masih lajang, saya mengalami masalah dengan mantan tunangan saya. Buat sebagian orang, masalah saya itu tidak seberapa, bahkan ada sahabat saya yang bilang begini "apaan sih Mer ? cowok kaya' gitu aja mu tangisin. Ga' pantas tuh, airmatamu itu terlalu berharga untuk mu buang-buang demi dia" (thanks to M.Danil, wherever you are). Saat itu semua saran dan nasihat dari orang-orang terdekat mental semua tak berarti. Karena saat itu saya larut dengan rasa kecewa, benci, sakit hati, marah dan sedih yang mendalam. Tapi semua itu saya lalui tidak lebih dari satu bulan ! Mengapa bisa ? Ya memang bisa, karena saya sadar sesadar-sadarnya semua perasaan kecewa dan sedih yang saya pendam untuk dia itu justru merugikan saya. Apa untungnya saya tenggelam dalam semua perasaan itu ? Toh disaat saya terpuruk, dia tengah menikmati hari-hari bahagia dengan wanita selingkuhannya itu. Jadi rugi 2x donk saya ! Tidak bisa ! Saya tidak mau terlalu banyak dirugikan lagi. Dan saya pun bangkit.

Dan hebatnya lagi (hehe .. saya merasa hebat) saya datang dengan gagahnya ke pesta pernikahan mantan tunangan saya itu. Tau apa yang terjadi di sana ? saya pingsan ? NOOOOO !!! Saya datang ke pesta itu dengan dandanan terbaik saya, dan saya disambut dengan pelukan dan tangisan dari kedua orangtuanya. Nah lho ? Iya bener banget, malah salah satu tantenya sesegukan menangis dan meminta maaf atas perlakuan ponakan mereka kepada saya. Sungguh-sungguh perasaan saya tidak bisa digambarkan saat itu. Ada perasaan menang dan unggul dari si 'pengantin' karena saya lebih diinginkan dikeluarga itu. Ada perasaan terharu karena keluarga yang begitu baik kok bisa punya anak bejat seperti itu ? Ada rasa bangga, kerena bisa memperlihatkan kepada mereka bahwa saya 'baik-baik' saja setelah ditinggalkan oleh dia. Seperti Syahrini bilang, rasanya "Sesuatu banget !"

Dan yang lebih membuat saya bersyukur adalah kejadian beberapa bulan kemudian. Ketika 'si istri' tadi datang kekantor saya, dia curhat bahwa suaminya kurang perhatian, pulang selalu larut malam, dan sering dalam keadaan mabok. Nah lhooo ??!!! Saya boleh bersyukur dong ya ? Syukur banget Allah ga jodohkan dia sama saya, kalo nggak tentulah saya yang berada dalam posisi si istri itu sekarang. Jadi agar rasa syukur saya tidak terlalu mencolok saya hibur dia dan sarankan agar dia banyak-banyak berdoa sama Allah, agar diberi kekuatan dan agar si suami segera berubah menjadi lebih baik. Kemudian lama tidak terdengar kabar mereka, karena beberapa bulan setelah mereka menikah saya juga menemukan pasangan hidup, dan kami pindah keluar kota. Ada sekitar 3 tahun kemudian, kakak mengabari saya bahwa dia bertemu dengan mantan saya itu, dan dia telah bercerai.

Jadi semenjak itu, saya merasa menjadi lebih dewasa. Ketika masalah hadir dalam hidup saya tidak lagi membuat saya murung dan terpuruk. Justru menjadi cemeti penyemangat agar saya bisa bangkit dan menjadi lebih baik. Ibarat anak sekolah, setiap ujian pertanda mereka bisa naik ke kelas berikutnya. Ibarat orang main game, sebagai tantangan untuk naik ke level berikutnya. Karena saya menanamkan dengan kuat dalam hati saya :

"Yakinlah, semua masalah adalah cobaan dari Allah, yang pasti Allah Maha Tahu, bahwa saya mampu menghadapinya. Yakinlah, semua masalah ini adalah sebuah teguran kecil dari Allah atas kesombongan saya selama ini, karena DIA ingin saya lebih dekat kepadaNYA" Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Selalu ada ilmu dari setiap kegagalan.

Sunday, September 7, 2014

Adil milik siapa ?

Ada orang yang terlahir dengan "kesempurnaan" dunia. Cantik iya, pintar iya, kaya iya. Rasanya tidak ada yang dia tidak punya.

Bahkan ketika menikah pun dia juga beruntung, dapat suami tampan iya, mapan iya, pintar iya. Jadi benar-benar lengkaplah kehidupan yang dimilikinya. Sudah bisa dipastikan anak-anak mereka pun tumbuh dan berkembang dalam keadaan serba berkecukupan.

Masa depan cerah pun sudah menanti mereka.

Disisi lain ada orang yang terlahir dengan kondisi Cantik, pintar namun miskin. Dia bercita-cita memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga kelak bisa merubah keadaan ekonomi keluarganya. Namun sekuat apapun usaha yang dia lakukan untuk mencapai impiannya, semua kandas ditengah jalan. Semua itu terjadi karena masalah ekonomi. Ada-ada saja masalah yang menghalangi jalannya dalam mencapai sukses.

Bahkan ketika menikahpun dia mendapatkan suami yang "biasa-biasa" saja, Wajah lumayan, perkerjaan ada. Namun secara materi belum bisa dikatakan cukup, karena untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya tetap saja harus minjam kesana-kemari.

Ada lagi mereka yang terlahir dengan serba kekurangan. Cantik tidak, kaya pun tidak. Soal pintar atau tidaknya pun susah untuk menakarnya. Karena kesulitan ekonomi, mereka ini tidak bisa sekolah. Alhasil mereka pun hidup dengan mengandalkan otot bukan lagi otak. Ada yang jadi kuli pikul, kuli bangunan, kuli pasar. Semua perkerjaan yang mengandalkan otot harus mereka jabani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kemudian dapat pasangan hidup yang juga dari kalangan pas-pasan. Sehingga anak-anak mereka yang tumbuh dan berkembang dalam kondisi serba kekurangan tak pelak lagi, kembali mengulang sejarah orangtua mereka. Tidak mengenyam pendidikan yang memadai.

Sekarang ada yang terlilit utang karena demi memenuhi kebutuhan hidup. Sementara ada mereka yang berfoya-foya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Ada lagi yang terpaksa harus menahan lapar demi memenuhi kebutuhan hidup.

Jika ditanya tentang kebahagiaan, bisa dibilang tidak ada yang menjawab 100% bahagia dengan kehidupan mereka. Tetap ada sedih, tetap ada kecewa, tetap ada tertawa.

Adilkah hidup ini ?

Sebenarnya adil itu milik siapa ?
This entry was posted in

Saturday, August 30, 2014

Malas itu Membunuhmu

Saat ini dimana-mana tersebar slogan "Rokok Membunuhmu". Saya sangat setuju dengan iklan rokok ini. Karena tidak sedikit kejadian, barang haram yang satu ini telah merenggut banyak nyawa karena penyakit-penyakit mematikan yang disebabkannya. Saya angkat seribu jempol untuk warning keras dari pemerintah ini. Namun alangkah lebih efektifnya jika produsen rokok itu sendiri yang diberi warning lebih keras. Atau kapan perlu, naikkan harga rokok 100x lipat, agar yang bisa membelinya hanya segelintir orang saja. Sehingga pengguna rokok bisa berkurang di negeri ini.

Akan tetapi saya tidak akan membahas soal rokok itu lebih dalam. Kali ini saya ingin membahas tentang suatu penyakit yang jauh lebih mematikan bagi kehidupan manusia, yaitu penyakit "MALAS". Dengan ekstrim saya berani menyatakan "MALAS ITU MEMBUNUHMU !"

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Malas itu berarti tidak mau/segan/tidak suka/tidak bernafsu berkerja atau melakukan sesuatu.

Mari renungkan sejenak makna dari kata malas tersebut di atas. Tidak mau melakukan sesuatu, tidak suka melakukan sesuatu, tidak bernafsu melakukan sesuatu. Melakukan 'sesuatu' itu bisa berupa banyak hal. Semua yang berhubungan dengan kata kerja adalah 'sesuatu" tadi.

Mengapa MALAS itu bisa Membunuhmu ?

Sikap Malas, yang ada pada manusia jika terjadi meskipun hanya sesaat sebenarnya dia telah merugikan dirinya sendiri. Karena sikap malas yang meski hanya sesaat tadi merupakan sebuah penundaan. Disadari atau tidak dia telah menunda kebaikan untuk datang menghampirinya. Malas makan, berarti telah menunda kebaikan bagi tubuh untuk mendapat pasokan energi. Malas tidur, berarti telah menunda kebaikan bagi tubuh untuk mendapatkan istirahat. Malas belajar, berarti telah menunda kebaikan bagi otak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Malas berkerja, berarti telah menunda kebaikan bagi kenyamanan di masa depan. Malas ibadah, berarti dia telah menunda kebaikan bagi kesehatan jiwanya. Dan masih banyak lagi sikap malas manusia yang berujung pada penundaan kebaikannya.

Tubuh manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Agar terus bisa hidup, maka jasmani dan rohani harus selalu mendapat perlakuan yang baik. Bagaimana perlakuan baik ini bisa didapat ? Satu jawabannya. Jauhi sikap MALAS !

Yakinlah, MALAS itu Membunuhmu !
Malas bisa mematikan kreatifitas.
Malas bisa mematikan rasa.
Malas pun bisa memiskinkan.

Jadi apa untungnya memelihara Malas dalam hidup kita ??
Tidak ada. Maka dari itu, Jauhilah Malas !!