Saturday, August 17, 2013

The Vague Memories

At Zero Zone

Setelah peristiwa kebakaran dahsyat yang menghanguskan kediaman keluargaku ketika aku berusia 2 bulan, ayah dan ibu membawaku ke Palembang, disini kami nomaden, hidup berpindah2 dari satu desa ke desa yang lain mengikuti tempat kerja ayah. Sementara saudara-saudaraku yang lain tetap di Lubuk Sikaping bersama keluarga nenek.

Ayahku yang seorang operator alat berat kerap berkerja di pedalaman hutan Sumatera Selatan. Jadi dari usia beberapa bulan aku hidup di camp-camp karyawan bersama kedua orangtuaku.

Untuk membantu perekonomian keluarga ibuku turut membantu mencari nafkah dengan membuka kantin di camp karyawan. Sebagian uang dikirim tiap bulannya untuk kebutuhan saudara2ku di Lubuk Sikaping.

Karena kesibukannya itu, aku sering dititipkan di ruang kantor pimpinan ayah saat itu. Alhamdulillah banget ya ayahku punya bos yang superr baik. Beliau dengan senang hati menawarkan ruangannya untuk kujadikan area bermain, sementara ibuku sibuk dengan perkerjaannya.

Dengar-dengar cerita, hal ini sempat membuat iri para istri-istri karyawan yang lain loh. Tapi mo bilang apa coba, kata ibuku bosnya ayah tidak suka dengan anak-anak karyawannya yang lain karena ibu-ibu mereka tidak 'pandai' menjaga kebersihan anaknya, jadi bosnya ayah ilfil kali yeee :p

Dari kecil kata ibu aku tuh orangnya ga suka yang jorok-jorok, kemana-mana selalu pake sepatu, ga suka main tanah, ga suka becek n paling ga tahan panas-panas. Makanya si Merry 'kecil' betaaahh seharian main di ruangan bos, karena tempatnya bersih, adem dan satu lagi banyyyaaakk makanannya. Heheh sepertinya yang terakhir itu deh yang bikin betah .. hahahaha..

Usia 5 tahun, ibu membawaku kembali ke kota kelahirannya Lubuk Sikaping, dengan niat membangun rumah lagi untuk kami tempati, sementara ayah tetap di Palembang karena kontrak ayah belum habis dengan perusahaannya. Aku tidak begitu ingat momen-momen saat ini karena aku masih terlalu kecil saat itu. Yang aku ingat adalah ketika aku diantarkan oleh ibu ke tempat adiknya di Bukit Tinggi. Adik ibu ini Kepala Sekolah TK, alhasil akupun sekolah disini dengan status 'anak bawang'

Setahun di Bukit Tinggi, kemudian aku kembali ke kota kelahiranku. Karena usiaku belum mencukupi utk masuk SD, oleh ibuku aku kembali dimasukkan ke TK, kali ini aku murid resmi di TK Islam Darul Hikmah.

Di TK ini aku bertemu dengan teman-teman yang sampai kini menjadi temanku. Diantaranya yang aku ingat Fifi Enda Yuliyearty (sorry sist udah lupa ejaan nama loe), Boy Keleswara, Ade Firmanda, Alex Yulianto, Fera (lupa nama lengkapnya .. sorry sist). Dan banyak lagi, tapi sorry banget aku lupa :(

Glowing Time

SD, aku bersekolah di SDN 13 Benteng (ga tau sekarang namanya apa). Prestasi lumayan, Juara I dari kelas 1 s/d kelas 6 dan lulus dengan rata-rata NEM 8, Alhamdulillah ga ngecewain ortu :)

SMP, aku masuk di SMPN 3 Tanjung Beringin (sekarang SMPN3 Lubuk Sikaping kali ya ). Prestasi ga jauh beda dengan SD dulu. Ga pernah Juara 3, dari 9 kali menerima Raport 2x Juara 2, sisanya Juara I plus Juara Umum. Senang dan bangga, itulah yang kulihat dari ekspresi ibuku ketika beberapa kali tampil ke depan untuk menerima raport dan piagam penghargaan atas namaku. Dan aku bahagia banget, karena bisa membahagiakan orangtua ku.

Underneath of curve

SMU, setelah mengikuti serangkaian test, aku diterima di SMU Plus Pasaman. Pada saat itu, SMU Plus ini menjadi idaman bagi orangtua siswa, karena disini siswa digratiskan dari semua biaya pendidikan. Bahkan mendapat bantuan seragam sekolah dari pemerintah.

Namun sebagai gantinya, orangtua harus rela berpisah dengan anaknya, karena di SMU Plus siswanya harus tinggal di asrama. Selama di SMU ini prestasiku tak lagi menonjol seperti waktu SMP dan SD dulu. Karena memang sesuai namanya, SMU Plus, siswa-siswi disini adalah siswa-siswi terbaik dari semua SMP se kabupaten Pasaman. Alhasil peringkatku tidak pernah menembus 10 besar.

Prestasi terbaikku selama 3 tahun di SMU Plus adalah peringkat 14 dari 35 orang siswa. Pertama kali menerima raport ada perasaan malu pada orangtuaku, namun mereka sedikitpun tidak menampakkan kekecewaannya padaku. Justru mereka dengan tersenyum bangga mengatakan aku 'hebat' karena masih bertahan di sarang 'macan'.

Masa SMU adalah masa-masa indah bagi remaja pada umumnya, karena di masa inilah mereka mulai merasakan yang namanya jatuh cinta. Ibarat bunga, pada usia ini remaja tengah menebarkan aroma wanginya. Masa-masa penuh kebahagiaan karena masa dimana remaja adalah pusat perhatian.

Namun tidak demikian bagiku. Ketika semester I kelas I, aku harus menerima kenyataan pahit, ayah sebagai penopang utama keluarga kami harus tumbang karena stroke yang menyerangnya tiba-tiba.

Kakiku bergetar dengan hebat ketika menyaksikan tubuh lemah ayah yang terbaring di UGD RSU Lubuk Sikaping. Dokter menyatakan ayahku kritis karena tekanan darahnya menembus angka 230. Jika lebih dari itu, pembuluh darah bisa pecah. Aku ingin berteriak sekuatnya saat itu, namun lidahku kelu. Aku hanya bisa berdiri mematung disamping tempat tidur ayah. Dunia terasa berputar saat itu, aku tidak bisa berpikir sama sekali.

Bisa diprediksi kejadian setelah itu, nilai-nilaiku terjun bebas. Pertama kalinya dalam hidupku angka merah bersarang di raportku. Aku tidak mengerti, semua blank, semua pelajaran tidak ada yang melekat diotakku.

Hal ini rupanya menarik perhatian Pak Irwan guru Bahasa Inggris, satu waktu beliau memanggilku dan mengatakan bahwa beliau sangat memahami keadaan psikis ku saat itu, namun beliau memberiku semangat untuk bangkit.

Masih terngiang jelas ditelingaku ketika dia berkata "kamu adalah salah satu siswa yang expektasi bapak tinggi, bapak kecewa dengan hasil belajar kamu belakangan ini, namun bapak mengerti apa sebabnya, tapi jika bapak jadi kamu kejadian ini akan bapak jadikan motivasi tersendiri, tanamkan pada diri kamu 'ayahku akan semakin sakit jika tahu nilai anaknya jatuh, dia akan semakin sakit jika tahu anaknya sedih, jadi agar ayahku cepat sembuh aku harus semakin rajin belajar agar mendapatkan nilai bagus dan menyenangkan hati ayahku'

Kata-kata itu bagaikan mantra sakti yang mampu membangkitkanku dari keterpurukan, sehingga aku bisa bertahan dan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Terimakasih banyak Pak Irwan. Kau adalah pahlawanku.
This entry was posted in